6 Things That Keep My Childhood Alive


Gue percaya bahwa setiap orang punya masa emas di masa kecilnya. Momen yang selalu dia banggakan, yang selalu membuatnya tersenyum karena setiap mengingatnya membuat dia hidup.

Gue juga percaya bahwa masa keemasan anak anak tiap orang nggak bisa diukur dari tahun berapa dia dilahirkan. Yang gue tau dan percayai, setiap tahun, masa, zaman, atau timeframe punya kelebihannya masing masing yang mungkin membuat generasi pendahulunya iri.

Tapi toh pada akhirnya, kita cuma berusaha bertahan hidup di dunia ini dan banyak individu pintar yang mencoba membuat hidup jadi lebih mudah atau lebih canggih. Jadi rasanya nggak ada yang perlu di-iri-in selama kita mau fokus liat dari sisi positifnya.

Ada masa di mana kehidupan masa kecil menyebalkan, melihat kaka kok kayaknya lebih pintar sementara gue selalu dimarahi karena nggak pernah bisa ngerjain matematika. Waktu gue dibesarkan, ya sekitar 7-10 tahun gitu gadget belum jadi kebutuhan primer. Dulu hiburan yang gue tunggu TV, radio, buku bergambar, makanan kecil, atau komik.

Bersama dengan deretan hiburan itu gue merakit memori di hidup gue, menikmati momen bercanda sama kaka-kaka gue, membawanya ke kehidupan nyata, dan yang paling penting, berapapun umur gue, ketika gue diperlihatkan dengan hiburan itu lagi seenggaknya itu bisa ngebuat gue senyum.

Gue pengen ngenalin ke lo, siapa aja tokoh yang menginfluence kehidupan kecil gue. Sosok-sosok yang membuat gue bangga mengakui bahwa kehidupan masa kecil gue begitu menyenangkan.

1. Matilda, Little Rascals, dan Film Liburan lainnya

Pun ga suka nonton, gue rasa tiap orang pasti punya 1 adegan yang selalu diingat dari salah satu film yang pernah ditonton seumur hidupnya.

Sebelum adegan planetarium & epilogue dari La La Land, kepala kena pohon dari Hereditary, atau adegan paku A Quiet Place yang menjadi bagian favorit gue sekarang, udah ada sosok Matilda & Ms Honey dari film Matilda, Darla & Alfafa dari Little Rascals, atau Peter & Judy dengan adegan ikonik mereka dari film Jumanji.

Matilda (1996) mengisahkan anak perempuan cantik dan pintar yang punya kemampuan menerbangkan barang setelah mendapat banyak penolakan di hidupnya. Orang tuanya yang tidak mengharapkannya menyekolahkan dia ke Kepala Sekolah arogan yang merupakan tante dari Ms. Honey, guru sekolahnya yang manis.

Masih hangat dipikiran gue adegan perdebatan Matilda dan Ms Honey tentang apakah perlu masuk ke rumah Ms Trunchbull. "Matilda...." Ujar Ms Honey memanggil yang disahuti "Ms Honey..." oleh Matilda mengajak masuk ke dalam adalah adegan ikonik pertama yang selalu menempel di otak gue dan gue rasa kaka-kaka gue juga.

Sementara Little Rascals (1995) mengangkat kisah sekumpulan anak laki-laki berumur 7-8 tahun yang tergabung dalam organisasi anti-perempuan yang tengah mencari dana untuk lomba balap mobil. Ketika mengetahui salah satu anggotanya, Alfalfa berkencan dengan Darla, mereka sibuk merencanakan agar Alfalfa putus dengan Darla.

Momen Alfalfa dan Darla di perahu, cara para anak cowok ini memberi salam dengan meletakkan punggung tangan di dagu, dan juga momen nyanyi keluar sabun dari mulutnya selalu menghangatkan pikiran gue betapa gue berharap film ini selalu diputar saat liburan.

Karena 2 film ini jarang banget diputar di saluran nasional, makanya tiap ada gue selalu merasa waktunya berharga. Disamping itu ada juga film Jumanji, Home Alone, dan Baby's Day Out yang selalu mengingatkan gue bahwa LEBARAN PANJANG IZ COMING! hahaha.

Oiya nggak ketinggalan juga serial film Mr. Bean (Rowan Aktinson), kayaknya semua episodenya seru seru banget dan gue nggak tau kenapa sekarang malah jarang ditayangin lagi. Dulu gue selalu berharap ada episode baru dari Mr. Bean. Deretan film-film liburan ini yang ngebuat gue tiap nonton merasa bahwa this world is so big, bahkan dunia mereka - Amerika dan UK, itu ada di belahan lain yang jauh dari tempat gue berdiri. Yang kemudian membuat gue akhirnya punya mimpi, untuk bisa kesana.

2. Monika Dkk, Kecil-kecil Punya Karya & Buku dongeng Anak Elex Media

Gue inget banget, waktu gue umur 5-6 tahun itu adalah saat usia pernikahan Ayah dan Ibu baru 10-11 tahun. Sepertinya emang momen 10 tahun pertama itu masih get used to dengan sifat, keadaan, dan penyesuaian masing-masing jadi nggak heran kalau sering cek-cok. Biasanya daripada denger Ibu dan Ayah suka cek-cok gue dan kaka kaka menenggelamkan pikiran kita ke buku-buku yang kita punya. Kalau mereka berantem juga kadang kita suka dibawa ke toko buku dan boleh beli 3 buku atau komik yang kita suka.

Ketika gue udah lebih besar, gue mulai menggunakan buku buku itu untuk ngomong sendiri main guru-guruan. Biasanya gue gambar-gambar, ceritanya absen, atau warna warnain.

Buku di atas ini adalah saksi bisu aktivitas gue masa transisi itu. Kakak gue mengenalkan serunya komik Monika dan Kawan Kawan yang terus kami koleksi hingga volume 60an lebih, dulu kita suka baca sambil puppy - saat belom tau kalau ternyata puppy sambil baca itu bikin pupnya keluar lebih lama. Karena kebiasaan itu kita jadi afal di cover ini ceritanya apa aja sih. Selain Monika, kaka gue juga mungkin akrab dengan komik Doraemon, Dragon Ball, dan Detective Conan.

Sri Izzati adalah salah satu penulis Kecil-kecil Punya Karya yang ngebuat gue iri setengah mati. Dulu di usia 9-10 tahun dia udah bikin banyak buku dan bukunya seru-seru semua. Cerita-cerita di KKPK ini lah yang mendorong gue jadi suka nulis, di salah satu novelnya yang menceritakan tentang asrama juga memotivasi gue pengen sekolah di asrama, sebelum gue tau kalau di Indonesia sekolah asrama semacam Taruna Nusantara atau Krida Nusantara hhh - no thanks.

3. Ensiklopedia & Seri Tokoh Dunia

Diantara gue dan kaka gue bertiga, abang gue yang pertama adalah sosok pertama yang suka ensiklopedia dan mengenalkan buku itu ke adek adeknya. Dulu yang betah gue baca cuma ensiklopedia terbitan disney tapi seiring bertambahnya usia gue juga suka ensiklopedia yang kaya di foto foto atas. Komik toko seri dunia juga yang mengenalkan gue sama tokoh tokoh setara Mahatma Gandhi.

Dulu gue ngerasa tingkat kepintaran gue bertambah kalau gue udah nyelesein Seri Tokoh Dunia. Banyak juga bacaan ensiklopedia muslim yang kalau gue inget inget lagi sekarang selalu bikin senyum. Apalagi diantara list lainnya, kayaknya buku-buku ini yang masih bertengger di rak buku. Bersyukur banget gue dikelilingin sama buku-buku keren kaya gini yang bikin gue inget mati - sedari kecil, bft.

4. Kaset Dongeng Malin Kundang & Film Kartun Sangkuriang

Dua ini adalah favorit gue. Sayang banget gue nggak bisa nemu foto kaset dongeng Malin Kundang ini. Seinget gue dulu ada beberapa seri, gue masih inget banget covernya tapi sebel banget nggak nemu di google. Dulu pulang sekolah kalau nggak bisa tidur siang gue dan Mbak selalu pasang kaset sembari baca bukunya, bukunya itu dulu kaya script dari rekaman kaset itu deh. Gue sampai hafal nadanya, potongan kalimat, dan backsoundnya. Rekaman ini juga yang bikin gue cinta banget sama magis industri audio.

Selain kaset dan bukunya, gue juga suka diikasih tontonan film kartun legenda jaman dulu kaya Sangkuriang atau Bawang Merah Bawang Putih. Gue gatau sama sekali siapa yang bikin film ini, ini beli filmnya di mana. Yang gue inget adalah tiap adegannya, backsound lebaynya, dan ceritanya menyenangkan banget. Gue waktu tau ini ada di youtube sampe happy banget! Nonton filmnya di sini

Setiap gue inget memori ini, selalu bikin gue senyum. Ga ada cara yang lebih baik dari kasitau anak tentang legenda daripada audio visual.

5. Walkman dengan Tasya & Sherina

Kayaknya kalau dibanding list yang lain, ini adalah salah satu option yang paling mainstream ya. Zaman kecil mah banyak banget yang dengerin Tasya dan Sherina. Tapi emang nggak bisa gue pungkiri bahwa keduanya benar-benar membawa pengaruh super positif di hidup gue.

Selain Sherina dengan Petualangan Sherina-nya, ada album My Life dan Andai Aku Besar Nanti membuat gue memahami bahwa ada industri musik di dunia ini yang enak banget untuk dinikmati. Kayaknya Click Clock adalah lagu pertama yang gue denger diluar yang diajarin orang tua gue. Film Petualangan Sherina sendiri juga film pertama yang gue tonton dibioskop yang dulu ngantrinya sampe ga ketulungan. Dengan temen-temen SMP gue dulu, kita afal banget semua line Petualangan Sherina dan suka main bareng.

Tasya ini sebenernya gue suka setelah Sherina. Selain dengerin lagu Tasya lewat walkman, gue juga suka rikues lagunya Tasya di radio anak-anak waktu baru masuk SMP - I know, gue emang tumbuh kembangnya agak telat, SMP masih dengerin lagu anak-anak. Kalau gak Tasya ya lagu Trio Kwek Kwek. Masih hangat dibayangan gimana gue membolak balikan cover album mereka, membaca tulisan tulisan kecil berisikan lirik.

Hingga kini gue masih menyimpang kaset Sherina yang gue ga berniat untuk putar. Cuma sekedar untuk diliat dan membawa gue kembali bahwa ada masa-masa dimana gue mengenal musik pertama kali.

6. Antara Minky Momo, Amigos, dan Film Sore Hari Lainnya

Ada masa di mana saat sore gue senang bermain keluar bersama tetangga, lalu ketika gue mulai menginjak SD dan SMP mulai banyak pilihan tontonan sore hari yang menempel di kepala dan sulit untuk ditinggalkan.

Minky Momo, Rugrats, Ghost at School, Do Re Mi, Creamy Mami merupakan sebagaian dari list pannjang kartun sore hari nggak boleh ketinggalan. Berbeda sama kartun pagi seperti Doraemon, Chibi Maruko Chan, Conan, atau Dragon Ball yang emang banyak peminatnya dan hingga kini beberapa masih suka disiarkan, kayaknya deretan kartun sore justru lebih sedikit peminatnya buktinya ga ada TV yang tertarik untuk menyiarkan lagi.

Syukurnya ada Youtube yang masih merekam beberapa episode untuk setidaknya me-refresh ingatan gue akan seberapa serunya episode episode di acara kartun tersebut. Belum lagi Soundtracknya yang memiliki lirik aneh tapi gampang diingat. Btw, gue waktu itu pernah challenge sepupu gue Tebak Soundtrack Kartun Anak, buat yang mau nonton bisa klik di sini

Setelah masa kartun anak udah selesai, masuklah telenovela Spanyol yang mulai menghiasi layar kaca sore hari. Sebut aja Amigos, Maria Bellen, dan Dulce Maria. Walaupun kisahnya emang kebanyakan sedih dan drama, gara-gara telenovela ini gue jadi keribetan hidup di dunia. Dan setiap nemuin masalah sih atau orang jahat sama gue suka bergumam dalam hati "Ah ini dulu kaya di Amigos nih".

Mungkin ga ada lagi peninggalan tersisa untuk beberapa list di atas. Ada yang waktu itu juga kena banjir 2007 dan menghilangkan semua buku gue atau dimakan rayap yang habis memakan hampir 100 buku di rumah.

Tapi yang namanya memori, cuma ngeliat replikanya aja atau foto cover di google aja bisa memporak pondakan hati lagi. List ini yang ngebuat sadar bahwa gue melihat dunia saat ini juga karena asupan yang gue dapet waktu masih kecil.

Kalaupun ada beberapa sifat orang tua gue yang menyebalkan, setidaknya gue sangat suka bagaimana mereka mendidik gue saat kecil karena gue diberikan kebebasan beraktivitas, memilih media yang gue mau untuk membuat gue berkembang, dan juga memberikan gue hak untuk menghibur diri lewat cara gue sendiri yang menyenangkan.

Karena emang anak kecil pantes dapet itu. Hak bahagia atas diri mereka sendiri dengan cara mereka sendiri asal masih dipantau orang tuanya agar gak kebablasan. Jadi, kamu kamu yang suka ngatur kehidupan anak kecil, especially anak orang lain, dan terus comparing with how great your childhood was, you better shut up. Setiap anak punya cara bahagianya masing-masing, you have got your time and you have no rights to mess up others.

Salam Hombimba,

Graisa

xoxo

#NEWPOST

0 views
SEARCH
ABOUT ME

A Ravenclaw-kind-of-girl. Unstoppable talker. Clichest & blurnest thinker. 

I write about books, films, art performances, and my daily  thoughts during traffic jam.

GRS Project is my home for all of my writings, thoughts, or complains about life.

GET IN TOUCH
  • YouTube - Grey Circle
  • Twitter - Grey Circle
  • Instagram - Grey Circle
  • LinkedIn - Grey Circle
BE THE FIRST ONE TO KNOW
Please reload

SEARCH BY TAG
Please reload

FEATURED POST

Recent Updates

Logo ungu Transparent.png
  • YouTube - Grey Circle
  • Twitter - Grey Circle
  • Instagram - Grey Circle
  • LinkedIn - Grey Circle