Review: GIRL ONLINE by Zoe Sugg

Updated: Dec 15, 2019


Girl Online | 6/10

Zoe Sugg

Penguin Books, Simon & Schuster

2014

Goodreads - Buy The Book

So so so, finally gue menyelesaikan juga novel ini! Setelah beberapa lama sempat bosen bacanya di awal. Tapi ternyata konflik sampe adegan terakhirnya ngebuat gue nggak mau ngelepas novel ini. Walaupun tingkat adiktifnya masih belum bisa dikategorikan seperti Satu Ruang (Aninda) atau A Litle Something Different (Hall) tapi ada beberapa hal yang entah kenapa bikin menarik padahal sudah sangat tertebak akhirnya!


British Girl, Penny, goes online ketika dia merasa hidupnya full of sucks. Susah untuk jadi dirinya sendiri di dunia nyata karena rasanya apa yang dia lakuin berakhir dengan kesalahan. Ollie, cowok yang selama ini ia taksir juga hanya memanfaatkannya karena ia punya skill fotografi yang bagus. Sahabatnya yang dulu baik, Meghan, juga selalu bersikap menyebalkan. Yang Penny miliki hanya keluarga yang sangat menyayanginya, sahabat sebelah rumahnya - Elliot dan juga blognya. Blog di mana ia tetap menjaga identitasnya untuk tetap anonymous dengan nama Girl Online karena hanya lewat blog ini dia bisa mengutarakan segalanya dan menjadi diri sendiri yang dicintai oleh para pembacanya.


Bertepatan dengan orang tua Penny yang mendapat tawaran untuk mengurus pernikahan di Amerika menjelang natal, insiden memalukan yang melibatkan Penny tersebar di sosial media. Dengan mengajak Elliot pula akhirnya Penny setuju untuk ikut merayakan liburan ke Amerika. Penny berusaha melupakan kejadian di kotanya dan mengontrol panick attack yang terus-terusan menyerangnya. Di Amerika, Penny bertemu dengan Noah - cucu dari pemilik katering, Sadie Lee. Noah menawarkan rasa nyaman baru untuk Penny dan membuatnya sadar bahwa ia telah menemukan cinta juga menemukan dirinya sendiri.


Namun, mengingat ini hanya liburan semata bagaimana hubungan cintanya dengan Noah bisa bertahan? Belum lagi mengetahui bahwa si manis Noah ternyata memiliki rahasia tersendiri. Kisah cintanya dengan Noah terancam bersamaan dengan identitas blognya yang mulai diketahui orang, siapa dalang dibaliknya? Penny mengajak kamu melihat sisi terbaik dan terburuk kehidupan di dunia online.

Walaupun dikemas dengan cerita romance ala anak SMA biasa, tapi novel ini berhasil menawarkan solusi dari isu sensitif yang jarang diangkat sama novel YA yaitu kesadaran akan kesehatan mental specifically how to control panick attack. Karena jarang novel yang mengangkat tema anxiety, Girl Online bisa jadi salah satu pilihan buat kamu yang lagi cari novel dengan tema serupa. Menariknya, Girl Online tidak hanya dengan gamblang menyebutkan pentingnya kesadaran anxiety ini secara harfiah atau menggurui tapi benar-benar dideskripsikan secara mendalam apa yang biasa orang rasakan dan menawarkan cara-cara berbeda yang menarik.

Ceritanya sebenernya sangat relate buat dedek dedek yang lagi suka dunia online, punya struggle kepercayaan diri di dunia online, dan juga yang lagi suka sukanya ngefans sama pemain band atau fangirling gitu, pasti jadi gemes banget baca ini. Pesan soal beraktivitas di dunia internet dan cara menanganinya kalau ada masalah juga menurut gue cukup bagus - kaya hapus account untuk sementara waktu, ignore notifications, atau internet detox.


Banyak hal kecil yang rasanya menghangatkan hati banget kaya aktivitas ketok tembok antara Eliot dan Penny, atau momen ayah Penny mengajak Elliot berkeliling Amerika rasanya lucu aja melihat ayah kita ngajak hangout sahabat kita gitu. Belum lagi, aksi manis Tom (kaka Penny) waktu menemani Penny sekolah, rasanya gue bisa relate banget sama kemanisan seorang kaka ke adeknya.

Serunya adalah pembaca diajak dulu terbuai dengan kemanisan Amerika dan Noah-Penny yang kayaknya bisa aja gitu dapet momennya, abis itu baru dibombardir dengan masalah ketika semua kemanisan berakhir. Rasanya gemes dan jadi khawatir sendiri sama karakternya (hahaha ga penting!). Walaupun plot 60% kisah cinta Noah-Penny tapi memilih penyelesaian dengan menitikberatkan pada keberanian melawan diri sendiri dan dukungan sahabat itu juga perlu di apresiasi.


Cara penulisannya bener-bener bisa membawa gue masuk ke dalam dunia mereka - which was good!


"Every time you feel sad, you should think of three happy things to chase the sad thing away" -- Bella (p. 242)

"So, why a trumpet?" "Because trumpets always sound so happy." -- Penny & Noah (p. 129)

Sayangnya emang plot ceritanya ini bikin rolling eyes banget karena ya bisa dibilang mengada-ada, rasanya pasti akan bilang "YAAAAAKALIIIIIIII" tapi untuk hal ini masih dalam taraf wajar aja sih, ga seberlebihan I Heart New York (Kelk).

Di satu sisi yang menyenangkan dari membaca ini sebenernya sesimple bahwa karakter novelnya tidak berlebihan atau menawarkan angan-angan semata, tapi enggak tau apakah entah emang dibuat supaya lebih relateable atau emang penggambaran karakternya aja yang kurang kuat.


Noah yang digambarkan manis masih dalam taraf normal dan nggak berlebihan, rasanya Noah dideskripsikan cowok yang emang lagi deketin cewek pada umumnya. Tapi ya kayaknya karakter Noah ini berkembang dengan baik cuma sepanjang di Amerika aja, sisanya ke overshadow sama Elliot. Elliot yang juga diceritakan gay tidak punya andil begitu mendalam, struggle-nya dan juga perasaannya tidak dideskripsikan kuat padahal itu salah satu konflik di kisah Elliot dan keluarganya. Meghan yang harusnya punya pengaruh kuat dalam konflik ceritanya nyatanya juga dibiarkan mengambang dengan background yang gajelas kenapa punya masalah sama Penny.

Yang cukup mengecewakan adalah solusi akhirnya harus berakhir dengan gaya pembalasan dendam atau bully-ing. Rasanya abis baca cerita dengan konsep yang menarik dan meningkatkan percaya diri pembacanya tapi endingnya malah menawarkan solusi yang tidak baik, bahaya aja sebenernya kalau dibaca untuk anak-anak yang baru beranjak gede dan menganggap perlakuan itu benar padahal seharusnya engga. Jadinya gue gabisa kasih rating tinggi-tinggi karena part ini.

Buku ini ditulis oleh youtuber dan instagram figure, Zoella. Ternyata banyak kontroversi juga dibalik novel ini, ada yang bilang novelnya nggak ditulis sendiri sama Zoe Sugg tapi ditulisin sama penulis buku anak-anak. Untuk lengkapnya bisa dibaca di sini (kronologisnya) atau di sini (pernyataan penulis buku anak-anaknya). Despite all, gue tetep bisa menikmati novelnya karena punya pesan menarik yang mau disampaikan.

Salam Hombimba,

Graisa

xoxo


#EnglishBook #CukupBagus #UntukRemaja #TentangBlogger #NYC

SEARCH
ABOUT ME

A Ravenclaw-kind-of-girl. Unstoppable talker. Clichest & blurnest thinker. 

I write about books, films, art performances, and my daily  thoughts during traffic jam.

GRS Project is my home for all of my writings, thoughts, or complains about life.

GET IN TOUCH
  • YouTube - Grey Circle
  • Twitter - Grey Circle
  • Instagram - Grey Circle
  • LinkedIn - Grey Circle
BE THE FIRST ONE TO KNOW
Please reload

SEARCH BY TAG
Please reload

FEATURED POST

Recent Updates

Logo ungu Transparent.png
  • YouTube - Grey Circle
  • Twitter - Grey Circle
  • Instagram - Grey Circle
  • LinkedIn - Grey Circle