Recap 2018: Mengingat yang Tak Teringat


Selain ini adalah minggu terburuk dengan dukungan orang-orang non supportive di hidup gue, gue juga harus sibuk tersenyum memastikan orang tau bahwa gue baik-baik aja.

Bukan gue berusaha cheerful di depan orang, gue cuma males orang nanya "lo kenapa?" dan gue harus jawab blablabla yang emang ga ada solusinya.

Gue cuma mau menulis. Pernah nggak merasakan lo nggak mau ngapa-ngapain, lo cuma ingin melakukan sesuatu ini sebagai pelampiasan lo. Ini versi gue.

Jadi ijinkan gue untuk mengeluhkan emosi yang udah gue tahan sepanjang tahun ini.

2018 sudah mau berakhir. Nggak ada satupun ingatan yang nempel di otak selain kenyataan bahwa tahun ini gue harus berkali-kali memejamkan mata dan berbisik

"Innalilahi wa inna ilaihi ra'jiun"

source: net animations

Minggu itu gue lagi sakit, di waktu yang sama nenek gue juga sakit. Uti punya perawakan badan yang cukup besar, dengan usianya yang udah menginjak 80-an dan makannya yang nggak pernah dijaga, beliau emang gampang banget sakit.

Terakhir Uti masuk rumah sakit, tapi kondisinya udah stabil dan sudah diperbolehkan pulang ke rumah.

Kamis itu gue masih terbaring di kasur sendirian. Kakak gue datang dari kantor tergopoh-gopoh, panik harus ngapain cuma bilang mau ke rumah Uti.

Long story short, gue mendapat kabar nenek gue udah nggak ada.

Gue sedekat itu sama Uti. Semua cucunya bergantung sama dia kalau udah urusan doa, curhat, dan bercandaan. Karenanya, kita semua selalu menyatu sebulan sekali di rumahnya.

Kehilangan Uti cukup berat untuk gue tapi gue sadar saat itu bahwa tetap bertahan hidup juga tidak membuat dia lebih bahagia.

Perasaannya getting worst ketika gue hadir di rumah duka, dan gue ngeliat semua tante gue nangis, bunga papan bertebaran, orang-orang kunjung datang.

Ini adalah pemakaman pertama gue setelah Nenek dari Ayah yang meninggal, lebih dari 7 tahun lalu.

Melihat hari itu, gue tertegun. Rasanya menghangatkan ketika tau orang yang paling kita sayang meninggalkan dunia ini, dan banyak perhatian dari orang lain di sekitar kita yang mau mendoakan. Mungkin di sana Uti akan dapat banyak bantuan doa menuntunnya ke surga.

Gue nggak pernah menyadari itu sebelumnya. Mengetahui bahwa hadir ke sebuah pemakaman rekan ternyata bisa memberikan kehangatan, perasaan lebih kuat kepada rekan itu dan tau bahwa kita dipedulikan. Sejak itu, gue nggak pernah melihat acara pemakaman adalah sebuah seremoni biasa.

Fast forward ke malam-malam setelahnya,

Beberapa bulan terakhir sewaktu itu, gue dan teman-teman angkatan SMA gue tengah memanjatkan doa untuk salah satu teman SMA kita yang sedang berjuang melawan kanker. Mari kita sebut, Alissa.

Alissa merupakan temen SD gue juga selama 3 tahun ketika gue masih tinggal di kota lain. Walaupun di SMA kita dipertemukan lagi dan nggak sedekat itu, waktu SD waktu gue banyak dihabiskan bersama Alissa dan teman-teman dekat SD gue lainnya. Dan karena orang tua gue dan orang tuanya berteman, jadi berita kesehatan Alissa mudah gue dapatkan. Alissa kerap bolak-balik Singapore-Indonesia untuk pengobatannya.

Perhatian temen-temen SMA gue saat itu fokus ke Alissa, kerap mendoakannya supaya ia lekas pulih dan diangkat kankernya.

Suatu malam temen sebangku gue saat SMA, Tari, menelfon gue malam itu sepulang dari kantor. "Cha, Sania udah nggak ada." Tari menyebutkan satu nama teman SMA kita lainnya. Sania, dulu gue dan dia sering ngobrol karena kita di klub ekskul yang sama. Orangnya ceria, lucu, badannya yang sedikit gempal selalu menyematkan senyum ketika bercerita.

Yang gue ingat, mata gue langsung kosong. Ketika fokus semua ke Alissa, ternyata Sania menjadi sosok pertama yang harus meninggalkan dunia ini. Sesampainya di rumah Sania, kami saling pandang dengan pandangan tidak percaya bahwa Sania udah nggak ada di dunia yang sama dengan kita. Satu angkatan berkumpul dan menyayangkan harus reuni di acara seperti ini.

Sepanjang pulang di jalan, gue semakin menyadari bahwa tidak pernah ada yang bisa menebak umur seseorang. Penyebab meninggalnya Sania tidak diketahui jelas, yang pasti dia awalnya sakit demam biasa. Ketika mau cek ke lab dan memutuskan untuk solat dulu, nyawanya sudah keburu diambil.

Di titik ini gue mengetahui bahwa apapun bisa terjadi di detik ini. Bahwa apa yang gue lakukan sekarang belum tentu berlanjut ke depannya. Sudahkah gue solat tepat waktu? Kira kira apa yang bisa gue presentasikan kelak di akhirat mengenai aktivitas gue di bumi ini? Aktivitas apa yang gue lakukan ketika gue kehilangan nyawa gue? Sesuatu yang baik kah? Pikiran-pikiran itu kerap menghantui gue?

Pemakaman. Selain menunjukkan siapa yang sayang dan benar-benar peduli dengan kita, menjadi pertanyaan juga ke kita sendiri. Apa yang sudah dilakukan sejauh ini? Sudah siapkah mempertanggung jawabkan jika nyawa kita dicabut kapan aja?

2-3 bulan setelahnya, Alissa ikut meninggalkan dunia ini. Seminggu sebelum pergi selama-lamanya, gue dan orang tua sempet mampir ke rumah sakit. Orang tuanya terlihat kelelahan namun telah menunjukkan usaha terbaik mereka memperjuangkan Alissa.

Saat itu Alissa nggak bisa diganggu karena tengah istirahat. Jadilah orang tuanya menemani gue dan keluarga di ruang VIP.

Ibunya banyak bercerita bahwa dirinya maupun Alissa sudah ikhlas. Alissa sudah meminta untuk tidak dibawa ke Singapur jika memang di Jakarta tidak memungkinkan.

Ibunya bercerita bahwa keinginan Alissa sudah tercapai yaitu sholat Ied di masjid dan melaksanakan solat Tarawih satu bulan full ketika bulan ramadhan kemarin.

Kata-kata Ibunya seperti mengetuk pintu hati gue. Permintaan Alissa nggak banyak, nggak impossible untuk dituruti, dan yang terpenting yang bisa melakukannya hanya dia.

Rasanya menyadarkan gue, bahwa ketika kita bisa diberikan waktu sebelum dipanggil ke pangkuan-Nya dan kita bisa meminta permintaan terakhir, bukankah permintaan untuk diri kita sendiri lebih baik? Permintaan dan harapan yang kita lakukan sendiri sehingga kita menyadari bahwa kita sudah menyelesaikkan pekerjaan terbaik kita di dunia ini?

Setelah kehilang Alissa, beberapa bulan kemudian gue kembali mendapat WhatsApp dengan pesan yang sama. Pengganti gue di kantor yang lama juga menutup usianya di tahun ini tanpa informasi sebelumnya bahwa ia telah 2 minggu melawan sakitnya.

Runtuh semua kebahagiaan yang ada saat itu.

Dan hingga tiba waktu sekarang, atau seminggu lalu ketika minggu terburuk mengawali penutup tahun 2018 ini.

6 bulan setelah kehilangan Uti di bulan Ramadhan kemarin.

Weekend itu Ibu bilang bahwa keadaan kakek gue, Akung, menurun dan tidak merespon. Di hari minggu itu gue ke rumah sakit sejak pagi.

Gue melihat Akung terbaring lemah di ruang Intermediate.

Usaha makan disiplinnya, menjaga badan, dan selalu tepat waktu menghasilkan kualitas hidup terbaik selama 90 tahun.

Gue mendengar dokter menyarankan untuk memanggil seluruh keluarga, mengikhlaskan dan mendoakan Akung.

Untuk memudahkan, baiknya Akung dipindahkan ke ruang kamar biasa agar keluarga bisa lalu-lalang masuk ke ruangan.

Memaksa Akung untuk tetap hidup rasanya menyakitkan, tapi kalau harus kehilangan di tahun yang sama dengan Uti rasanya susah untuk mengikhlaskannya.

Sampai tengah malam, semua anaknya giliran berbisik "lailahaillallah" dan dua kalimat syahadat di telinga Akung.

Mengantarkan Akung kembali kepada-Nya, momen bagaimana seluruh keluarga mengikhlaskan jika Akung memang harus menyusul Uti.

Doa dan tangis selama 12 jam itu terbayarkan dengan respon Akung yang membaik.

Walaupun susah bergerak, sudah tidak bisa bicara, dan dipenuhi alat dan selang Akung bersuara tidak jelas.

Sempat berpikir, lalu melihat kelagat setelahnya...ternyata Akung solat.

Ia solat, disaat kondisinya mungkin susah untuk bergerak ke kanan atau kiri.

Seminggu memiliki pikiran kalut sudikah kami kehilangan Akung?

Hingga tiba di acara nikahan sebuah teman, tepat hari sabtu 6 hari setelah pertama kali alat Akung banyak dilepas. Telfon dari sepupu meruntuhkan kembali semua puing puing momen baik yang selama ini gue jaga.

Akung telah meninggalkan dunia ini.

Pikiranku kacau dan berusaha tetap tenang untuk menyusun harus berkordinasi dengan siapa saja.

Lagi dan lagi.

Akhir pekan gue melihat kain batik untuk mentataki kain kafan, buku Yasiin gue pegang, dan tangis yang masih turun walaupun sudah mengikhlaskan.

Tepat hari minggu pukul 10 pagi.

Setelah berusaha mendapatkan pasukan upacara dan inspektur yang sesuai dengan pangkat Akung, Akung dimakamkan dengan upacara militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Akung, seorang Kolonel Elektronika Angkatan Udara.

Salah satu pembuat pesawat Garuda Indonesia pertama.

Seluruh cerita perangnya yang kerap ia ceritakan ditambah candaan "kok kamu cantik hari ini"

Akung dengan seluruh kesetiannya terhadap kedisiplinan, kesetiannya pada Uti, kesetiannya untuk membela negara.......kini dikembalikan ke Ibu Pertiwi.

Akung telah diserahkan dari pihak keluarga ke negara.

Dengan simbolis bendera Indonesia dan tembakan salvo, Akung istirahat di tempat yang selalu ia inginkan menjadi tempat terakhirnya.

It's so haaaaaard to dealing with this kind of thing all over again. And these last 7 days have been the most dreadful and awful week for my family.

We lost our beloved grandparents in the same year, next year won't be the same.

It's so hard that I even cannot explain how I feel about it.

Besides, gue sangat menghargai bagaimana Angkatan Udara mengakomodir pemakaman Akung.

Gue menyadari selama 2 akhir pekan ini,

Ketika lo tengah mendengarkan spotify di akhir pekan, di waktu yang sama ada mereka yang harus mendengar Yasiin di rumahnya, tembakan salvo untuk memberi penghormatan terakhir orang yang ia sayangi, atau bahkan "lailahaillallah" dan dua kalimat syahadat di telinganya untuk diantarkan ke peristirahatan terakhirnya.

Gue mungkin sudah mengetahui dan menyadari ini sebelumnya.

Tapi karena banyak pikiran yang tidak lebih baik menutupinya, tahun ini Allah menyempurnakan ingatan gue dengan momen kehilangan bertubi-tubi.

Mengingat hal yang tak teringat sebelumnya

But, I'm aware now.

And I can't wait for the better 2019, both the better of me for this world and for this world getting better of its self.

Salam Hombimba,

Graisa

xoxo

#NEWPOST

SEARCH
ABOUT ME

A Ravenclaw-kind-of-girl. Unstoppable talker. Clichest & blurnest thinker. 

I write about books, films, art performances, and my daily  thoughts during traffic jam.

GRS Project is my home for all of my writings, thoughts, or complains about life.

GET IN TOUCH
  • YouTube - Grey Circle
  • Twitter - Grey Circle
  • Instagram - Grey Circle
  • LinkedIn - Grey Circle
BE THE FIRST ONE TO KNOW
Please reload

SEARCH BY TAG
Please reload

FEATURED POST

Recent Updates

Logo ungu Transparent.png
  • YouTube - Grey Circle
  • Twitter - Grey Circle
  • Instagram - Grey Circle
  • LinkedIn - Grey Circle