2018 Summer Love: To All The Boys I've Never Loved Before


Summer love is always fun. Di Indonesia walaupun nggak mengenal Musim Panas, tapi tetep banyak cerita mengikutinya.

Hari ini, mari kita ngobrol-ngobrol ringan tentang yang lucu-lucu di hidup gue.

Have I ever told you that every summer (I know my country doesn't have summer - but this event apparently always happened along June, July, Agustus, and so on) I always had this moment related with a random-complicated-undefineable not-so-relationship or some other guys?

Di bulan-bulan ini biasa gue akan terlibat dengan beberapa cowok yang turned out gajelas aja gitu. Biasanya di momen itu gue punya memori menarik dengan cowok yang aneh-aneh, entah karena ketidak sengajaan atau gue aja kecentilan kali ya - chill ok.

Summer love never been love for me. Buat gue, Summer love itu nggak penting gimana mulainya, yang penting gimana cerita akhirnya - yang biasanya juga berakhir di summer-summer itu juga. Karena kalau nggak berakhir, gue rasa nggak cocok disebut summer love.

Let's have some fun to recap how my 2018 Summer story went. Won't mention the real name of any guys, respect to all of them for being such a sweet! But this year somehow quite funny - or worst. Gue tidak akan menceritakan based on who came first. It just happened! So anyway, let's do this!

Disclaimer: All the boys was not that Summer love "Summer Love". This is only some funny list of guys who randomly came into my life this year.

1. Bad Timing with Men Who Found His Knots

I can't stand men with glasses! Rahasia umum lah itu. Then there's this guy. It was mid August, if I'm not mistaken. I forgot how does it started, but then all I can remember is I asked a couple of questions to one of my colleague, Kia. Out of my control, Kia easily spread the news that I have this crush on him.

I took it easy because.....it was as easy like that! I mean...he is cute..in some ways and he wears glasses! Tell me about it. But I have never had that strong feeling that...I want to know him more. Entah kenapa minggu itu lagi hot-hotnya banget orang ngecengin gue sama cowok yang satu ini. Kebetulan karena he travels a lot dia nggak ada di tempat saat itu.

Kia sudah beberapa kali nanya whether he's with someone or not, tapi kabarnya cowok ini bilang nggak ada yang berhasil. Jadilah semua orang di kantor juga pada bilang "yaudah fix nanti pas pulang dikenalin". Kia orangnya gercep, jadi chat sama dia harus bisa menganalogikan supaya hasilnya smooth. Akhirnya Kia came up with a name. "Ah coba dulu cek Anita Berdasari" yang kemudian gue cek di instagram.

Kata Kia, mungkin ini salah satu perempuan yang paling berpotensi dekat sama si cowok yang mari kita sebut dengan Ray. Long story short, itu adalah hari jumat di mana hari seninnya seharusnya hari gue dikenalkan dengan Ray. Sebelum pulang gue bercanda dengan teman-teman kantor gimana hari senin kelak dan kita juga gosipin abis-abisan si Anita ini lah yang yaa tampaknya....biasa aja sebenernya.

Hari sabtu gue membuka notifikasi instagram gue dan menemukan bahwa ada like dari foto yang udah gue upload cukup lama, dan like itu berasal dari....Anita Berdasari. Wow, saya kenalan juga belum sama cowoknya, sudah ada aja cewek yang protektif kepo-kepoin instagram gue. Malam itu langsung rame gue dan teman-teman kantor gosipin entah like foto itu disengaja atau kepencet, either way, Anita tetep kepoin gue. Wow, menarik.

Sehari sebelum hari senin yakni hari minggu, gue coba buka instagram Ray dan ENG III ENG ternyata eh ternyata si Ray ini menghampiri Anita ke kotanya - Anita ini tinggal diluar Jakarta btw. Dan ternyata mereka menonton film bersama uu so sweet. Dan sepertinya by then mereka pacaran. This is the stupidest yet funniest moment eva. Hari senin semua orang jadi awkward, semua niat yang udah disusun berantakan. Berawal tau bahwa Ray emang udah lama cari pacar, dan pas mau dikenalin sama gue malah udah punya pacar duluan sehari sebelumnya! hahahahaa!

Zuzur aku ngakak banget momen ini, karena timingnya pas banget. Nggak berapa lama dari kejadian itu, sekitar satu setengah bulan, Ray akhirnya menyebarkan undangan nikahan dia dengan Anita yang lagi-lagi membuat geger kantor "LAH MON MAAP BUKANNYA BARU PACARAN" jiakakkaka aku lebih ngakak lagi. Tapi pun begitu I hope the best for both of them.

Karena kerap didorong, aku pun akhirnya juga kenalan dengan dia. Hanya sekedar berjabat tangan. Tadinya sih mau bilang "Eh salam ya buat Anita yang like foto aku" tapi ya kan ga mungkin yha haha. Hingga hari ini, Ray sudah hidup bahagia dengan Anita. Yang tidak pernah gue sesali untuk akhirnya tidak jadi kenalan.

2. The Perfect Men Who Got Freaked Out

Diantara semua list di sini, yang satu ini punya cerita paling hangat, perasaan paling kuat, dan terasa lebih nyata. Sayangnya, harus berakhir super drama yang bikin gue sampe sekarang masih geleng-geleng kepala ingetnya karena......berlebihan to its finest! Kita sebut siapa enaknya? Garry? Garry sounds ok.

Kenal Garry dari cara yang paling appropriate di muka bumi ini. Tidak dengan tinder, tidak karena sosial media, bukan orang asing yang tabrakan di jalan, tapi bukan juga karena lingkungan kantor. Tebak sendiri. Pokoknya perkenalan gue dengan dia adalah cara yang paling tepat yang gue harapkan ketika mengenal seorang cowok.

He's almost perfect, if I can say that. Alasan pertama yang menarik perhatian gue adalah how he's seeing life, how his parents taught him to act or make a decision, and how he just looks perfect with his glasses -- I told you that's matters! Setelah pertemuan pertama semua berjalan baik-baik aja, tidak ada pertemuan ketiga dan keempat yang emang dikhususkan untuk bertemu berdua. Selalu dengan orang-orang lainnya.

Dibilang chat intense, awalnya biasa aja lalu bergerak lebih sering sampai akhirnya bergerak terlalu cepat karena gue dan malah tak terkontrol. Salah gue adalah gue memperlakukan dia like a diamond, I'm afraid to lose such a perfect guy. Tapi tiap gue in touch sama dia juga gue selalu punya persepsi "naaah, he's just too perfect to be true, we won't make it".

Dari segala kesempurnaannya yang bisa dikesampingkan adalah kurang proaktifnya dia as a person. Cenderung menghindar jika ada masalah sehingga membuat orang linglung harus bersikap dan super lama dalam proses. Kepribadian ini bertemu dengan gue yang serba cepat dalam bergerak, melihat sesuatu, dan straghtforward mengambil keputusan. Mungkin ketidak cocokan ini yang akhirnya membuat bumi menjauhkan kami satu sama lain.

Malam itu gue lagi pusing berat akibat kerjaan yang banyak, I just want to make something up, something funny to release my stress. Akhirnya gue came up with joke yang gue baca di twitter, niatnya meneruskan ke dia dan entah kenapa gue berharap banyak bahwa dia bisa mengerti maksut gue dan bisa membalas pesan gue saat itu dengan sesuatu yang lucu jadi bisa bikin gue ketawa.

Sayangnya tanpa disadari, itu menjadi chat terakhir gue sama dia. Karena dia merasa bahwa gue too agressive to make a move. WAIT WHAT???? First, it was def A JOKE. A Twitter joke for goddamn sake. Joke itupun gue kepcerr langsung dari twitterr gayes, not something that I just wrote down there. And there he was freaked out and just left like that. Menghilang ga ada pamit ga ada apa.

Dengan bodohnya ada momen gue merasa sedih sampe akhirnya gue ada di titik sadar...wait..... Buat apa juga sedih atau merasa bersalah? Dia juga selo aja hidupnya, ketika ada masalah YANG PADA HAKIKATNYA adalah masalah yang dia buat sendiri karena itu cuma perspektif dia, dia ilang aja tuh kaga pamit gak apa. Yailah kocak. Baru deket kaya gitu doang aja ada masalah sederhana langsung cabut, gimana ada bigger problem.

Anyway, disamping itu semua he was nice and cute also I appreciate what he had done to me. Mungkin ada posisinya gue yang salah saat itu, tapi seenggaknya sekarang gue udah cukup sadar bahwa gue sama dia sebenernya sama sama se ga peduli itu satu sama lain LOL. Mungkin karena saat itu terbawa suasana aja, mungkin dia yang cenderung terlena denagn proses kurang cocok sama gue yang gercep dalam melakukan sesuatu.

Tapi ya kalau bole kasih masukan sedikit, please lah, jangan baper banget kalau melibatkan twitter dan sebuah joke. Atau, tolong lah jangan mengkambing hitamkan joke kalau sebenernya mau sekedar cabut doang dari hidup gue, just be gentle. YHA! duh.

3. The Imperfect Guy From Another Planet

Apa sih yang bisa salah dari sebuah proses mengobrol? Masa sih ngobrol bisa mengindikasikan ketidak cocokan antara dua orang? Gue kira itu nggak mungkin, apalagi untuk gue yang emang belajar komunikasi di jenjang kuliah.

Sampai akhirnya, Benno, laki-laki yang mengenalkan bahwa kemungkinan itu benar adanya!

Pertemuan pertama kali dengan Benno baik-baik aja, jika dilihat sekilas kayaknya nggak ada yang salah sama dia. Kesan pertama yang ditawarkan sebenarnya menjanjikan, karena sepertinya bisa melengkapi dari apa yang gue nggak punya atau nggak suka. Paham kan? Jadi kalau interest kita beda bisa saling ngelengkapin gitu loh!

Awal obrolan biasa aja, gue ngerasa walaupun ada beberapa topik obrolan yang gue bahas dia nggak ngerti dan dia jelasin gue juga guenggak ngerti tapi kita - or at least gue, berusaha mengerti. Sampe akhirnya kita ada di titik satu obrolan yang kemudian ditanggapinya benar-benar jauh dari konteks yang gue maksut.

Gue kira gue salah nangkep tapi setelah gue konfirmasi lagi maksutnya ternyata bener........bener bener tidak nyambung! Ibaratnya lagi ngomongin soal sekolah tiba tiba ngebahas social issue atau malah lari ke presiden atau politik. Lah jangan jangan dia buzzer capres lagi!

Karena titik itu gue jadi meragukan tiap dia ngomong, ini maksut yang gue omongin sampai nggak di dia. Bahkan beberapa kali kalau dia mau bring up lagi masalah yang udah selesai kita omongin, ada sesuatu yang dia salah maksut. Gue sampe mikir jangan-jangan ini orang dari planet yang beda lagi, kenapa bahkan obrolan sederhana aja nggak bisa ditangkap dengan baik maknanya.

Benno membuktikan bahwa walaupun secara fisik lo mungkin terlihat oke banget dengan kacamata bertengger yang keren. Tapi tetep aja kalau ngobrol nggak nyambung rasanya kesempurnaan yang tampak mata jadi sirna. Akhirnya, pertemuan pertama itu tidak pernah lanjut lagi ke pertemuan-pertemuan berikutnya. Mungkin juga dia sudah kembali ke planet asalnya.

4. The Long-Lost Men Who Stopped By For A Moment

Wah yang satu ini sebenernya udah bukan orang baru lagi di blog gue. Dari jaman ini blog domainnya masih blogspot juga namanya udah banyak bertengger untuk hal-hal memorable yang menyebalkan. Namanya Aditya, dan gue bisa pastikan bahwa di list keempat ini selain menjadi penutup summer story gue tapi juga post ini sebagai terakhir dia gue sebut dalam blog ini.

Aditya ini hobi banget dateng-pergi ke hidup gue, yang gue tau adalah dia datang pergi hanya ketika dia lagi putus sama pacarnya. Di tahun 2017, pernah ada momen lama gue keep in touch sama dia lagi for a while karena saat itu gue juga lagi butuh seseorang buat yang merhatiin gue juga. Di tahun 2017 menurutnya kita tidak end up dengan baik, menurut gue BIASA AJA. Emang dari awal gue juga nggak pake perasaan, jadi gue pun biasa aja. Cuma dia ngerasa kayaknya bikin gue sakit hati.

Di tahun ini dia kembali lagi di bulan-bulan rawan lelaki datang ke hidup gue. Dengan gaya yang sama, dan bahan obrolan yang demi apapun itu-itu aja dia ngebahas lagi masa-masa di tahun 2017 yang menurut gue udah crystal clear. Saking gemesnya gue sampe nanya "ini yang baper gue atau lo sih? menurut gue ga ada apa-apa masih lo bahas aja." yang akhirnya membungkam dia membahas kisah lama lagi.

Nggak berhenti sampai disitu, masih aja berusaha untuk having a conversation. Which is fine sebenernya. Maksutnya kalau emang butuh temen chat ya yaudah ga apa apa gue temenin chat, tapi yang berbobot gitu loh chatnya. Lo tau nggak sih tipe orang yang chat "apa kabar? di mana? lagi apa? udah di kantor?" yang sebenernya jawabannya udah obvious gitu.

Nanti giliran udah balikan sama pacarnya, foto pacarnya udah dipajang pajang lagi di instagram menghindar lagi dari gue, kerjaannya follow-unfollow instagram gue mulu. Like WTF. Ganggu notifikasi instagram gue yang jelas-jelas nggak seberapa ini. Kan kalau dapet notif aku jadi geer gituh, padahal ternyata notifnya lu lagi lu lagi.

Di beberapa hari terakhir, dia masih suka chat gajelas, lalu hilang, lalu unfollow gue lagi. Lalu dengan kesadaran penuh, dan perasaan keganggu sama kebiasaan dia yang nggak jelas ini aku terpaksa harus nge-block nomernya.

Sezuzurnya, gue nggak apa-apa banget kalau dia mau chat yang emang ngobrol, bener deh, gue tanggepin. Tapi kalau udah chat gapenting, terus maksa minta dibales, terus suka video call atau missed call nggak jelas super ganggu.

Walaupun tahun lalu sok sok menawarkan ingin mengajak ke hubungan lebih jelas dan serius, tentu saja I don't buy it. God loves me more.

Yodah segitu aja cerita gue di akhir pekan ini. Intinya bertemu dengan cowok-cowok ini membuat gue sadar bahwa Allah melindungi gue dari cowok-cowok yang emang nggak cocok untuk gue.

Mereka semua ini baik-baik, beberapa punya attitude yang bagus walaupun lainnya enggak, gimanapun kehadiran mereka sangat gue apresiasi. Karena tanpa mereka, gue nggak akan belajar bahwa ada berbagai macam cowok di dunia ini.

Terima kasih untuk pelajarannya.

Salam Hombimba,

Graisa

xoxo

#NEWPOST

SEARCH
ABOUT ME

A Ravenclaw-kind-of-girl. Unstoppable talker. Clichest & blurnest thinker. 

I write about books, films, art performances, and my daily  thoughts during traffic jam.

GRS Project is my home for all of my writings, thoughts, or complains about life.

GET IN TOUCH
  • YouTube - Grey Circle
  • Twitter - Grey Circle
  • Instagram - Grey Circle
  • LinkedIn - Grey Circle
BE THE FIRST ONE TO KNOW
Please reload

SEARCH BY TAG
Please reload

FEATURED POST

Recent Updates

Logo ungu Transparent.png
  • YouTube - Grey Circle
  • Twitter - Grey Circle
  • Instagram - Grey Circle
  • LinkedIn - Grey Circle