Maturity Level, They Said

I think there was a time I'm really confused for what happened to me.

My emotional become stable dan gue merasa damai dengan diri sendiri, tidak menggebu-gebu, tidak mencurahkan segala emosi secara cepat, dan bahkan berakhir tidak menyampaikan apa-apa.


Hal ini semakin menjadi big deals untuk gue when we talk about love life.

Kadang kala gue seperti merasa bersalah bahwa gue jarang sekali membuat tulisan untuk Ais di blog ini, padahal rasanya gue punya perasaan yang mendalam tidak kurang - bahkan in some parts lebih daripada perasaan yang pernah gue rasakan sebelumnya.


Lalu gue mulai bertanya, why? Kenapa juga jadi gue bingung sendiri?

Kenapa gue dulu mudah sekali mengungkapkan semuanya di blog, mencurahkan semuanya tentang seseorang, tapi sekarang nggak? Apakah rasa sayangnya nggak sebesar itu? Nggak mungkin.


Pertanyaan ini kemudian gue lempar ke Mentari, seseorang yang emang udah lama jadi pembaca dan pemberi masukan full-time gue.

Jawabannya simple dan menusuk, karena hubungannya lo baik-baik aja, cha. Lo terfulfilled.

Ujar Mentari yang tentu jadi bahan renungan gue untuk waktu yang lama.



Gue merasa complete. I think that's kinda new.

Tidak salah tapi gue tidak merasa bahwa gue sudah ada di titik itu.

Ada benarnya juga, dulu trigger gue menulis sesuatu ya karena ada rasa yang tidak keluar sehingga ngotot perlu dikeluarkan, emosinya habis di marah-marah dan sedih karena emang dari dulu selalu berteman dengan problem in relationship. I was never realise that I have been in such a painful relationship back then, and it involved a lot of individuals which never cure the issue.


Makanya dulu gue selalu punya isu yang harus ditulis di blog, because I always have a problem.

I have never been fulfilled back then.


Tidak mudah menerima konsep itu sebenarnya, hingga kemarin malam datang. Ketika akhirnya hubungan ini sedikit tergores dan menghasilkan percikan api. Kecil tapi kalau dibakar nggak bisa dipungkiri akan besar juga.

Gue rasa gue sudah lama tidak merasa seperti tadi malam.

Merasa ada yang salah, merasa ada yang harus dikeluhkan dalam hubungan yang akhirnya menciptakan komunikasi yang nggak enak. Gue merasa hal itu sudah lama tidak terjadi dengan gue.


Lalu semalam terjadi.

Keadaan yang harusnya bisa menghasilkan perdebatan mendalam, yang gue percaya jika hal ini diterapkan beberapa tahun lalu, bukan tidur nyenyak yang gue dapat tapi ulasan blog yang panjang tentang betapa sakit hatinya gue.

Tapi malam kemarin tidak.


Semalam suntuk gue berbicara, Ais mendengar.

Emosinya stabil, tidak merasa terancam, memberikan feedback yang relatively tepat.

He didn't try to fulfil my ego, nor to show me he was superior, he doesn't mind with the topic, he just tried to listen.

Gue sempat terguncang karena gue tau akhirnya bisa terjadi apa aja tergantung bagaimana kami ngehandle-nya.


Tapi alih-alih semalam nangis, teriak, tidur ga nyenyak, bangun lelah, atau menulis blog panjang, semalam semuanya terasa biasa aja.

Setelah mendengar keluhan gue yang panjang, Ais memberikan jawaban untuk membuat gue mengerti.

Tidak untuk menyalahkan kata-kata gue, tetapi untuk memberitahu apa yang mungkin belum gue capture.

Tidak ada kata marah-marah, menyudutkan, tidak ada yang merasa tersinggung, kami hanya berbicara dan berdiskusi.


Kami menyimpulkan hasilnya bersama, lalu kami tidur bersama via video seperti biasanya. Sama-sama tidur dengan tersenyum dan tetap menutup malam dengan baik.

Lalu gue sadari, this is the reason why I never actually write about him.

Because he deserved it. He solved every problems through talk instead of diemin gue dan akhirnya gue yang ngomel kemana-mana.

Dia tau betul bahwa gue hanya perlu didengarkan dan diberitahu apa yang tidak terlihat.

Tidak ada topik yang bisa gue tulis tentang dia sebelumnya karena semua sudah dia selesaikan sehingga tidak ada lagi emosi yang mengganjal di hati gue memaksa untuk dikeluarkan.


It's his moves.


Mungkin memang ini masanya, masa di mana masalah tidak bisa diselesaikan lewat kata-kata tulisan tapi emang harus diungkapkan. Masalahnya, butuh pasangan pendengar yang baik untuk figure out semuanya.

Ternyata Mentari benar, there's no problem with the reason why I never have idea to write about him.

There's just one condition, I'm just in such a healthy relationship.


Maturity level, they said.

To go through problem with talk, then you end the night with gaining more love. I stan for that


Salam Hombimba,


Grey

xoxo

SEARCH
ABOUT ME

A Ravenclaw-kind-of-girl. Unstoppable talker. Clichest & blurnest thinker. 

I write about books, films, art performances, and my daily  thoughts during traffic jam.

GRS Project is my home for all of my writings, thoughts, or complains about life.

GET IN TOUCH
  • YouTube - Grey Circle
  • Twitter - Grey Circle
  • Instagram - Grey Circle
  • LinkedIn - Grey Circle
BE THE FIRST ONE TO KNOW
Please reload

SEARCH BY TAG
Please reload

FEATURED POST

Recent Updates

Logo ungu Transparent.png
  • YouTube - Grey Circle
  • Twitter - Grey Circle
  • Instagram - Grey Circle
  • LinkedIn - Grey Circle