Talking Design by Traveloka: A Gentle Reminder to Remember What Empathy Is


Minggu itu gue dapet kabar kalau design team dari Traveloka mau ngadain semacam talkshow soal design gitu. Isu yang diangkat adalah Empathy dan korelasinya dengan design. Sebagai orang yang selama ini suka mempertanyakan kehidupan tapi design mentok di canva, gue jelas tertarik acara ini. Bersama temen gue, kita langsung daftar.

Singkat cerita, gue daftar di waktu yang sama tapi tempat berbeda. Formnya cuma membutuhkan nama, email, multiple choices alesan kenapa tertarik, dan kasitau apa makna empathy menurut kita. Couple days later, gue dapet invitationnya dan temen gue dapet apology mail dan rejection gitu. Gatau apa pertimbangannya ya. Tapi katanya memang kuotanya terbatas, mungkin gue orang terakhir yang diterima. I don’t know.

Kamis (19/4) akhirnya tiba, acara Empathy ini adalah acara pertama Talking Design. Berlokasi di Wisma 77 Tower 2, lantai 2, di Room Godwitorium – namanya aja udha artsy banget ya ga tu? Ohiya harus tuker kartu dulu ya di lobby, biar dapet akses. Iya ini gedung Tokopedia dulu itu.

Waktu masuk ke lobby lantai 2 Traveloka di suruh registrasi dan dikasih name tag gitu buat kasitau nama kita kaya di foto bawah, terus di tawarin coffee break isinya ada kopi, sus, sama risol tapi gue cuma ngeliat aja terus gue masuk ke ruangan yang ternyata kewl banget. Ini kali pertama gue kesini.

Nuansa biru abu-abu dan ada tulisan Traveloka First Then The World yang terpampang nyata di belakang. Bentuk ruangannya tempat duduk ala melingkar gitu yang nempel ke tembok, full carpet jadi mau duduk di bawah atau di atas sama sama nyaman. Banyak bantal dan ada bean bag, ya startup goals banget lah yea. Nyehehe.

Sebelum acara di mulai handphone gue berkali-kali berdering, ada sekitar 3 email masuk dari panitia Talking Design yang berniat ngasih tau link streaming dan akses untuk materi yang nanti di presentasiin. Pertama, yash!! Cool right ternyata acaranya bisa diakses di mana aja. Kedua, sayangnya cukup annoying dapet email sampe 3 kali untuk informasi yang sama, tapi mungkin karena baru acara pertama panitia deg deg an kali ya sampe sekip gitu. Ya udah maklumin aja. Namanya juga kedatangan tamu designer dari startup lain juga ye kan.

Sembari menunggu acara, orang orang try to mingle to anyone else. Terlihat beberapa orang Traveloka menyapa para tamu yang datang dari luar Traveloka. Such a warm welcome and nice attitude.

Acara dimulai 45 menit dari jadwal yang ada di email. MC cowok sama cewek membuka acara. Mengenalkan pencetus Talking Design, namanya Sabrina. Udah cakep, pinter, dah gue mah apa. Sabrina menjelaskan bahwa adanya sharing session ini untuk bisa memperluas knowledge dan saling belajar antara satu designer dengan designer lainnya.

MC juga mengenalkan tiga pembicara lainnya, Bowo, Dea, dan Kiel. Ketiganya ini Design Lead di Traveloka. Sebelum memulai acara, MC menjelaskan bahwa semua pertanyaan bisa di sampaikan lewat satu link, jadi nggak menerima pertanyaan langsung lewat acungan tangan. (OMG keren aja!).

Gue suka sok sok denger dari teman-teman designer gue, setiap desain yang mereka buat pasti mereka selalu mempertimbangkan gunanya apa sih buat user? Harus pake bahasa apa sih biar tesampaikan? Lalu gue mengerti, bahwa ada rasa empathy yang dibangun designer dari tiap karya yang mereka buat. Tapi apa sih sebenernya Empathy yang dimaksud? But again, gue bukan orang dengan background design, jadi mungkin ada beberapa hal yang salah gue tangkep. Cuma let me try to summarize a little bit.

Bowo (Taufiq Wibowo) menjelaskan makna empathy dengan gesture santai, bercanda, dan campuran bahasa Inggris dan bahasa Indonesianya. Mostly, hal hal yang disampaikan adalah pengertian empathy yang bisa kita temukan di buku buku teori.

Tapi, Bowo memberikan satu resep soal empathy yaitu DEDI yang intinya untuk memilih perspektif, tidak menjadi judgmental, memahami masalah, dan mengkomunikasikan masalah. Kesimpulan dari presentasi Bowo adalah bahwa empathy datang dari sebuah masalah, dan empathy itu sendiri adalah respon dari permasalahan tersebut.

Pembicara kedua, Dhea (Dhea Sekararum) dengan tegas dan santai menjelaskan empathy dari sisi psikologi. Bagaimana kita bisa membangun rasa empathy, memahami seseorang dari keseharian kita. Bagaimana empathy dalam design mempengaruhi user dan lainnya.

Pembawaannya yang sangat mantap, materi yang sangat bulat dan padat, dan pace nya yang cepat membuat siapapun pasti ngangguk ngangguk dengar Dhea ngomong. Lewat presentasi dia, gue tau bahwa kehadiran gue malem itu nggak akan menyisakan otak yang kosong lagi. Dia sangat tau apa yang dia ucapkan, dan dia menyampaikannya like a master.

Pembicara selanjutnya, Kiel (Yehezkiel Gulo) Seorang engineer yang beralih ke design. Dari caranya berbicara yang tegas, dan garis wajahnya yang tajam sangat menggambarkan bahwa dia engineer banget nih pasti. Tapi temennya banyak, karena waktu dia ngomong banyak yang neriakin.

Kiel menjelaskan bagaimana pentingnya empathy nggak cuma dibangun antara creator dan outsider of the company, tapi penting juga untuk mengerti pendapat user yang relate to company. Yea mungkin ga relate buat designer yang kerja independen ya, tapi secara nggak langsung dia mau menyampakain kalau you can’t just group your user in one scoop tapi coba liat yang lebih luas, mungkin di sekitar lo sendiri.

Setelah tiga pembicara udah presentasi, ada break 10 menit untuk ke toiler atau ambil coffee break lagi. Belajar dari waktu mulai yang ngaret, panitia menyediakan stop watch di layar untuk memastikan waktu intermention akan on time. Bagi yang duduk di atas, pasti ini adalah kesempatan yang pas, karena dari tadi yang duduk sampe bawah bawah sampe gabisa ada akses keluar.

Setelah kembali dari intemission, selanjutnya Q&A dari pertanyaan yang sudah dikirimkan. Jawaban dijawab oleh tiap pembacara, sayangnya jawabannya sulit untuk relate ke design dan jadi membahas empathy kemana-mana atau ke keseharian yang jelas sepertinya bukan harapan dari pemberi pertanyaan. Tapi waktu udah menunjukkan pukul 08.30 di mana sebelumnya pembicara juga mungkin kerja, jadi mungkin lelah kali ya.

Setelah itu ada session di mana audience mengisi form feedback, di kocok random untuk menemukan 5 orang pemenang dapet voucher 100.000. Abis itu MC ngajakin foto bareng ala konser band gitu lah abis itu pulang. Ngantri balikin KTP.

Sebagai acara pertama, tentu pendapat gue sendiri Not Bad. Ada beberapa improvement yang bisa dilakukan di sisi time management supaya lebih on time, atau pemilihan tempat yang lebih comfortable. Maksutnya supaya sepanjang acara, orang nggak perlu nahan pipis karena dia duduk di bagian atas tapi nggak bisa kebawah karena banyaknya orang yang duduk dibawah, dan gaenak dong lagi presentasi ngomong “misi numpang numpang”

Kalau bisa kasih masukan dari aku yang mungkin ikan cere dari segi design lagi mungkin sebagai audience gue pikir akan topik bisa lebih fokus kepada design dan gimana pengaplikasian. Dipikiran gue, hari itu gue akan mendapatkan informasi dari para master ini gimana sih proses dari kita empathy, sampai kita mengaplikasikan perasaan empathy kita dalam sebuah design. Walaupun Dea dalam presentasinya sempat mention, tapi gue pengen lebih mengeksplor lagi bagaimana sih design yang sangat “empathy” itu.

Gue juga sempat berharap mereka menjelaskan sedikit bagaimana empathy terhadap user itu mempengaruhi grow nya Traveloka atau sebuah perusahaan lain. Tapi gue mengerti mungkin ini pengennya cuma sharing session antar designer, entah mungkin most of audience udah tau itu atau emang timnya juga gamau terlalu hard selling soal Traveloka.

Refer to alasan Sabrina membuat acara ini adalah saling belajar antar designer, akan lebih menarik kalau MC bisa ada interaksi juga ke penonton yang sesama designer, nanyain pengalaman mereka menghubungkan empathy dengan design mereka, apasi yang bisa diceritakan, jadi sessionnya bener bener sali sharing satu sama lain bukan cuma mendengarkan speaker dan cenderung one way communication.

It is also good to know what audience expect from the event, jadi bisa di brief kepada speaker scoop yang akan dibicarain begitu juga sama jawaban dari tiap QA untuk relate to design. Mungkin si, ini pendapat gue doang.

Do I recommend this event?

If the event improving then yes, karena gue ngeliat bukan hanya ada satu alasan yang bisa di dapat dari acara ini. Nggak cuma nambah pengetahuan aja soal persepsi dari designer lain, tapi it is a perfect way to expand your networking karena audiencenya jelas dari background yang berbeda beda. It is also great to learn from others mistake. Ketika sharing, speaker dan mungkin others ga takut buat menyeritakan kesalahan mereka dalam bekerja, and you can learn from that.

Acara ini juga super direkomendasikan buat orang orang yang mungkin dari background engineer, atau product manager, atau konten, atau orang yang kerjanya relate ke anak anak design. Selain bisa menyampaikan keluhan kenapa kadang suka ga match pendapatnya, bisa juga mengerti persepsi para designer ini.

Untuk designer independen, this is your time to gain lots of knowledge. Build your connection, tanya tanya, dan curi idenya, jangan lupa tanya kontaknya supaya bisa sharing di lain waktu, tapi jangan marah kalau ga di follback instagramnya, namanya juga hidup kan.

Kalau topiknya menarik, gue pasti akan datang lagi. Jangan lupa instastory, spot kantornya instagramable LOL.

Anyway, this event is free!

Salam Hombimba,

Graisa

xoxo

#NEWPOST

78 views
SEARCH
ABOUT ME

A Ravenclaw-kind-of-girl. Unstoppable talker. Clichest & blurnest thinker. 

I write about books, films, art performances, and my daily  thoughts during traffic jam.

GRS Project is my home for all of my writings, thoughts, or complains about life.

GET IN TOUCH
  • YouTube - Grey Circle
  • Twitter - Grey Circle
  • Instagram - Grey Circle
  • LinkedIn - Grey Circle
BE THE FIRST ONE TO KNOW
Please reload

SEARCH BY TAG
Please reload

FEATURED POST

Recent Updates

Logo ungu Transparent.png
  • YouTube - Grey Circle
  • Twitter - Grey Circle
  • Instagram - Grey Circle
  • LinkedIn - Grey Circle