top of page

Review: Tuesdays with Morrie by Mitch Albom


Tuesdays with Morrie | 8.5/10

Mitch Albom

Doubleday

1997

 

Kematian erat dikaitkan dengan suatu hal yang mengerikan. Tapi untuk Mitch Albom, makna kematian kian berganti kala pertemuannya di tiap sesi dengan Morrie.

Morrie Schwartz merupakan professor Mitch Albom di jenjang kuliah 20 tahun lalu. Jika sosok yang paling menginspirasi dan mengajarkan banyak hal tentang dunia ini kepada kamu adalah Orang Tua atau keluarga, Mitch bisa dibilang akan memilih Morrie sebagai salah satunya. Setelah Mitch sibuk dengan kehidupannya, ia merasa bahwa telah kehilang sesosok mentor yang dulu mengispirasinya.

Pertemuannya dengan Morrie seakan mengajaknya untuk kembali mencari ilmu sebagaimana dulu di masa kuliah, yang membuat keduanya sepakat untuk kembali mengenang zaman dulu dengan bertemu untuk session lesson di setiap hari selasa.

Saat itu Morrie diprediksi hanya tinggal beberapa bulan menuju ajalnya dikarenakan penyakit yang diidapnya. Bukannya merutuki apa yang terjadi pada dirinya, Morrie menjelaskan ke Mitch bagaimana kita harusnya menghargai waktu, momen, dan memaknai sebuah kematian. Memberikan Mitch pelajaran baru seakan sebagai lesson terakhir sebelum Morrie meninggalkan dunia ini.

Sebagai pembaca yang punya kecendrungan untuk memilih buku fiksi daripada non fiksi, Tuesdays with Morrie jelas membukakan mata betapa menariknya pula sebuah cerita non fiksi.

Tuesdays with Morrie merupakan memoir dari Mitch Albom perihal sesinya di detik-detik akhir kehidupan professornya. Membacanya seakan tidak percaya bahwa ini merupakan suatu hal yang nyata.

Buku yang gue terima dari kado ulang tahun ini jelas sebuah buku yang gue butuh, membukakan mata gue untuk mencari tujuan dalam kehidupan dan nggak memandang sesuatu dalam perspektif negatif saja. Denger-denger ini merupakan sebuah buku wajib untuk anak-anak Sastra Inggris.

Alih-alih menggunakan bahasa berat yang sukar dimengerti, memoir yang dirilis pertama kali tahun 1997 ini justru memiliki gaya bahasa yang sangat mudah dicerna dan membawa pembaca bagaikan ombak sampai akhir cerita. Pembaca akan sangat terhipnotis untuk masuk ke dalam seakan duduk di sana bersama Mitch mendengarkan Morrie.

Jelas tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan buku ini, mengingat cara bertuturnya sangat to the point dan mengenai perasaan di banyak kutipannya. Tidak hanya berbicara kematian, Morrie juga menjelaskan tentang keluarga, makna uang, juga cinta.

Tidak ada gambaran yang tepat untuk menggabarkan cerita ini selain bahwa kamu akan mudah untuk jatuh cinta dan perasaan menggebu menemukan tujuan hidup kamu.

"Learn how to die, and you learn how to live."

"Well, the truth is, if you really listen to that bird on your shoulder, if you accept that you can die at any time, then you might not be as ambitious a you are" -- Morrie (p. 83)

Salam Hombimba,

Graisa

xoxo

bottom of page