5 Things We Learnt From Our First Time Being People Managers

Sejak kecil yang gue ketahui "Bos" adalah sosok superior diantara pekerja pada umumnya dalam apapun jenis pekerjaan. Eksistensi kata kunci "Bos" erat dengan hubungan organisasi vertikal - ada bos pasti ada team membernya, begitu pula dengan sentimen negatif yang mengikutinya.


Berangsur remaja gue mulai merasa "Bos" hanyalah sebuah pilihan kata yang kurang deskriptif untuk menggambarkan ikon yang mengelola sebuah tim. Di SMA gue belajar istilah "Leader" yang gue artikan sebagai seorang pemimpin - fokus definisinya bukan mengontrol sesuatu tetapi menjadi figur yang bisa mengayomi sebuah tim.


Tapi sepertinya kita semua tahu betul bahwa banyak banget orang diluar sana yang punya hubungan kompleks (re: tidak hangat) dengan Lead mereka. Hal ini lumayan menarik, karena ketika kita menggunjing Lead arahan diskusinya seputar tentang sisi enaknya posisi mereka yang berkaitan dengan benefit dan kedudukan yang lebih tinggi dalam organisasi tapi nggak banyak yang ngomongin besarnya beban pikiran, tanggung jawab, dan tuntutan yang diterima oleh para Lead ini.


Salah satunya adalah tantangan untuk membangun hubungan baik antara Lead dengan tim membernya.


Topik ini mengingatkan gue dengan diskusi bersama rekan kerja dan thinking partner gue, Sarah Audri, beberapa bulan silam. Diskusi yang sebenarnya masih terus berjalan hingga sekarang karena selalu menarik penemuannya. Kami yang saat itu diberikan kepercayaan untuk berada di posisi tersebut pertama kalinya di usia mid-20ish menemukan bahwa hubungan Lead dan tim member cenderung memiliki sifat tricky dibanding kompleks yang sempat gue sampaikan di awal.


Kami yang juga berangkat dari seorang tim member sebelumnya mencoba mempelajari apa sih yang perlu dipahami untuk membangun hubungan yang sehat dan meminimalisir sentimen negatif dari tim member.


Pastinya kami jauh dari sempurna tapi kami menemukan beberapa poin sederhana yang layak untuk dicoba karena kami merasa hal ini belum pernah disampaikan ke kami sebelumnya di awal masa kami menjadi People Managers.


1. Social Media is Their Safe Space

Salah satu langkah seorang Lead untuk dekat dengan tim membernya adalah mencoba berteman di sosial medianya - which is super fine. Cuma hal ini bisa jadi suatu hal yang tricky ketika postingan tim member berkaitan dengan suatu hal yang terjadi atau self expression mereka di ranah kerjaan. Hal ini bisa saja semisal dia komplain kerjaannya terlalu banyak, mencoba defensif atau ranting untuk hal yang dituduhkan dikerjaan, mengeluh kelelahan, bercanda mengenai kerjaan yang masih dalam batas, etc. Jika hal tersebut terjadi kami belajar untuk tidak merespon dengan segala jenis komentar yang sifatnya mempertanyakan, mengonfirmasi, sarkas, atau bahkan menegur. Bahkan tidak akan kami singgung ketika percakapan kasual atau dalam proses 1 on 1 jika bukan mereka yang membahas duluan.

Approach tersebut untuk meyakinkan mereka bahwa media sosial adalah ranah privasi mereka menjadi diri mereka sesungguhnya. Mengetahui bahwa kami menjadi lead hanya sebatas di kantor dan slack, namun diluar itu kami semua hanya manusia sama dengan mereka.

Jika memang ada hal yang perlu disinggung atau ditegur, kami akan merasa lebih nyaman untuk tau hal tersebut dari mereka langsung alih alih menjadikan postingan mereka referensi. Sebelum menyinggung kami akan bertanya dahulu "Gimana load kerjaannya akhir akhir ini?" "Ada kendala apa akhir akhir ini?" "Gimana hubungan sama teman satu tim?". Kalau memang mereka nggak jawab sesuai dengan postingan mereka, ya anggap saja mereka bisa mengurus itu sendiri dan kami bisa alihkan pikiran ke yang lain. Kecuali jika sudah merugikan citra perusahaan atau kenyamanan tim, harus dikulik dengan tepat sampai paham betul duduk masalahnya.

2. Task Separation

Hal tricky lainnya adalah ketika usia kita dan tim member tidak terlalu jauh berbeda, bahkan mungkin bisa lebih senior daripada kita dan menganggap kita juga teman. Aktivitas yang rentan tipis batasan biasanya akan sulit dilakukan. Kapan harus menjadi teman dan kapan harus menjadi Lead? Memposisikan diri di awal secara terus terang akan membantu tim member mendapat gambaran dan mood pesan yang ingin disampaikan. Ketika 1 on 1 contohnya, mungkin ada beberapa momen kita ingin menjadi teman dan ada beberapa momen menjadi Lead. Menyampaikan secara literal "Oke gimana pun juga ini 1 on 1, Gue bicara sebagai lead ya, baiknya sih xxx" akan membantu mereka mengerti dimana mereka harus memijakkan kaki melihat kami.

gif

Selain itu ketika jadi Lead di awal awal, kerap kali kita merasa bahwa kita menanggung semua hal. Kadang hal yang sebenernya terlalu detail atau personal kerap jadi beban pikiran. Nyatanya penting untuk Lead mengetahui mana hal yang bisa ia kontrol dan tidak untuk mengatur emosi dan fisik. Kami nggak jarang memikirkan feedback perasaan dari para tim member, kenapa ya dia sikapnya gitu ke gue? Apakah dia kecewa dikasih tugas ini? Apakah dia baik baik saja? Ternyata punya perasaan itu justru mengambil banyak energi kita. Sehingga penting untuk Lead mengetahui batasan task mereka, ini berarti kemampuan untuk tau mana yang harusnya dijadikan pikiran mana yang tidak - salah satunya merelakan hal hal yang nggak bisa dikontrol seperti perasaan dan emosi seseorang terhadap kita.

3. Treat Them as Human Being

Hal penting yang kadang kerap terlupakan adalah memiliki mindset bahwa tim member bukan sekedar aset perusahaan, tapi juga manusia yang ingin berkembang.

Menjelaskan tujuan, impact atau pengaruh tim member tersebut dalam goal yang ingin dicapai perusahaan serta mengajak mereka diskusi bagaimana mereka bisa berkontribusi sesungguhnya cara awal "memanusiakan" mereka.

Penting juga untuk mencoba melihat sudut pandang dari kacamata mereka, apa kendala yang akan mereka hadapi, pelajaran apa yang bisa mereka dapatkan, dan tidak lupa untuk memvalidasi pendapat kita ke mereka sehingga bukan cuma sekedar asumsi sendiri saja. Seperti misalnya "Project ini bisa membantu kamu untuk xxxxx, apakah kamu merasa jadi belajar sesuatu yang baru dengan ini?" daripada langsung merasa "Ah ini bagus buat lo, udah terima aja". Menariknya menjadi di lead di awal awal juga menyadarkan kami bahwa Lead gabisa liat sesuatu sekedar hitam dan putih saja. Cara kerjanya tidak lagi menilai seseorang "jika dia terkendala kerjaan, dia bodoh - jika tidak banyak nanya, dia pintar". Nyatanya banyak sekali ranah abu abu untuk lead mengetahui penyebab dari kendala yang dialami tim member termasuk jika didalamnya terdapat pengaruh isu personal dan kesehatan mental. Hal-hal tersebut yang nggak bisa dihindari lead alih alih berlindung dibalik "ya harus professional dong" karena pada akhirnya ya tim member manusia juga yang kehidupannya bukan cuma soal dunia kerja aja.

4. The Art of Choosing The Right Word

Masih relevan dengan poin sebelumnya, hal yang paling tricky dalam hidup beroragnisasi adalah memilih padanan kata yang tepat sesuai dengan target bicaranya. Hal pertama yang kami coba pelajari ketika mendapatkan tanggung jawab menjadi lead adalah mengenal karakter dari tiap tim member, mempelajari betul mereka tipe orangnya seperti apa karena kami percaya informasi yang sama bisa jadi perlu disampaikan dengan cara yang berbeda.

Mungkin orang yang optimis lebih ingin diberikan semangat yang menggebu gebu dan diberi pesan positif terhadap kesempatan besar yang bisa diraih di depan mata, orang yang penuh insecure perlu dijelaskan sumber masalah kenapa secara detail lalu langkah paling dekat yang bisa dicapai apa, atau orang yang sederhana hanya mau menerima informasi sesingkat dan sepadat mungkin. Communicate with a person sometimes already hard, switching communication style to each of different person is even harder. Tapi ya harus dipelajari untuk membentuk lingkungan kerja yang kondusif dan memotivasi.

5. Being Their Thinking Partner

Tantangan besar lainnya adalah kemampuan untuk meningkatkan kualitas diri tim member - yes it's part of our responsibility. Pun yang bisa menjadikan itu nyata adalah tim member tersebut tapi bagaimana mereka menjalankan, apa saja langkah yang bisa dilakukan itu perlu guidance dari lead mereka. Salah satu caranya adalah penting untuk melihat mereka bukan hanya sebagai tim member tapi thinking partner kami. Memberi ruang untuk berpendapat, ikut dalam proses berpikir, dan juga proses membuat keputusan. Sebagaimana memilih kata yang tepat, poin ini pun ada seninya. Kami harus tau betul kapan harus stop menyampaikan pendapat dan memberi mereka ruang, walaupun kami mungkin mengetahui poin yang ingin mereka sampaikan namun dengan memberi mereka ruang akan membentuk mindset bahwa mereka terlibat sejak awal dan membantu mereka kritis.


Menerapkan ini juga penting untuk lead menurunkan egonya sehingga tidak selalu merasa paling benar.

Sesungguhnya ini hanya sedikit dari banyak hal yang masih gue & Sarah pelajari dan temukan dalam kehidupan sehari hari. Hal hal ini juga kami temukan ketika melakukan banyak kesalahan dan mendapat feedback dari tim member kami.


Nyatanya role Lead/People Managers yang banyak orang indikasikan superior dan beneficial tidak lebih daripada hidup bersosial pada umumnya. Role yang diciptakan sebagai mengingat pentingnya kesadaran bahwa setiap manusia sama dan tidak ada yang lebih hebat. Karena sesungguhnya di atas langit masih ada Hotman Paris.


Semoga ini membantu!


Salam Hombimba,


Graisa

xoxo

LET THE POSTS COME TO YOU