Review The Carrie Diaries by Candace Bushnell



The Carrie Diaries | 5.5/10

Candace Bushnell

Balzer + Bray, 2010

Young Adult, Fiksi, Coming-of-Age, High School

Goodreads

17 tahun sebelum Carrie Bradshaw dikenal dengan kehidupan glamornya sebagai penulis di NYC, Carrie duduk di tahun akhir SMA meratapi surat penolakan akan aplikasi kelas menulis impiannya di New York.


Sembari meratapi nasib impian menulisnya yang diambang batas, Carrie juga mulai menyadari bahwa ia hanya punya 1 tahun terakhir untuk menikmati masa SMAnya dan bertanya-bertanya kenapa sampai sekarang ia belum juga berkencan, huft.


Kehidupan Carrie diwarnai oleh ketiga sahabatnya, Lali - sahabatnya sejak dulu, The Mouse - si pintar yang juga kaku, Maggie dan Walt yang merupakan pasangan kekasih. Di hari pertama mereka menginjakkan kaki sudah santer terdengar kehadiran murid baru, Sebastian Kydd, nama yang nggak asing untuk Carrie setelah musim panas lalu.


Suasana SMA nggak lengkap rasanya tanpa sosok populer yang diagungkan siswa-siswa, meet Donna LaDonna - sudah berteman dengan Carrie sejak TK tapi nggak tau kenapa kayaknya Donna nggak suka dan sensi banget sama Carrie.


Ketika teman-temannya sudah mulai menentukan universitas, Carrie masih bimbang dengan pilihannya. Ia suka menulis dan menurut Carrie mendiang ibunya pasti akan mendukungnya. Namun, ayahnya yang seorang scientist selalu mengarahkan Carrie dan kedua adiknya (Missy & Dorrit) untuk masuk jurusan science di Universitas Brown. Obsesi Ayahnya hingga mengenalkan Carrie dengan salah satu mahasiswa di Brown, George.


Namun kehadiran Sebastian Kydd kedalam hidupnya membuat Carrie kerap terperangkap di situasi yang membuatnya gundah. Belum lagi kedekatan Sebastian dan Donna yang selalu membuatnya merasa terancam. Semua potret problematika yang dialami Carrie pada tahun terakhirnya di SMA mengajarkan pentingnya untuk memprioritaskan keinginan diri sendiri.



Melihat sampul bukunya yang terbungkus dalam hard cover dengan paduan warna pink dan abu-abu cantik di sebuah festival buku diskon besar membuat gue tanpa pikir dua kali untuk mengambilnya - jujur emang cantik banget. Nyatanya, kecantikan fisik bukunya nggak punya bobon kesan sebesar yang isi bukunya tawarkan.


The Carries Diaries menawarkan problematika mainstream kehidupan SMA - cinta pertama, persahabatan, pengkhianatan, berhadapan dengan teman yang nggak suka sama kita, dan masalah kuliah. Sayangnya, buku ini luput untuk memberikan satu hal yang istimewa sehingga membuat pembaca terkesan setelahnya. Rasanya ya kisah kisah SMA pada umumnya aja, konfliknya juga tipis sekali.


Carrie Bradshaw sendiri adalah karakter yang sangat mudah dibenci. Tidak masalah jika memang mau menggambarkan karakter innocent di jenjang SMA tapi keputusan-keputusannya sangat bodoh, terlalu naif dan tidak ada sense untuk "belajar dari kesalahan". Satu satunya alasan untuk memaafkan Carrie adalah betapa setia kawannya dan sensitifitasnya ia ketika temannya membutuhkan.


Hal yang sulit dipercaya lainnya adalah karakter Sebastian Kydd yang berdasarkan sinopsisnya membawa pengaruh besar terhadap hidup Carrie - well he did, tapi karakter Sebastian dihabisi dengan segala persona jeleknya dan nggak ngasih waktu ke pembaca untuk mengerti latar belakang keputusan yang ia ambil atau proses memahami tujuan Sebastian di dalam kisah Carrie. Rasanya dia hanya karakter bad boy yang niatnya emang buruk aja. That's it.


Karakternya pun BANYAK SEKALI dan MINIM PENGARUH terhadap jalan cerita. Mengikuti tetuahnya (Sex and The City) kayaknya The Carrie Diaries ini emang flop banget sebagai buku namun ketika kisahnya di angkat ke TV Series rasanya menarik banget. Entah siapa yang jago tapi isi satu buku ini dirangkum dan dikemas lebih engaging di episode pertama TV seriesnya. Versi seriesnya mampu memilih siapa karakter yang perlu dipertahankan dan dihapus untuk bisa fokus terhadap cerita.


Untuk kamu yang suka Sex and The City dan berharap dapet vibes yang sama lebih baik mundur saja karena vibesnya berbeda dan buku ini lebih cocok untuk anak SMA yang sedang ingin baca buku yang relatable atau ringan. Tidak banyak hal seksual yang membuat buku ini baiknya tidak dibaca remaja - relatif aman, tidak ada adegan seksual yang extreme juga.


In overall, gue kasih 5.5 karena sebenearnya sebagai buku Young Adult penggunaan bahasa, tata letak, pemilihan masalah bisa saja dinikmati tapi ya emang agak nggak berkesan aja sih.


Salam Hombimba,


Graisa

xoxo

LET THE POSTS COME TO YOU