Review The Sun is Also a Star by Nicola Yoon



The Sun is Also a Star | 8.5/10

Nicola Yoon

Penguin Random House, 2016

Young Adult, Fiksi

Goodreads

Cewek yang tangguh, siap menghadapi kenyataan, realistis, diterpa sama banyak cobaan hidup emang sebel banget sih kalau dipertemukan sama cowok yang hopeless romantic dan omongan-omongannya selalu berlandasan sama takdir.


Makanya waktu Natasha - perempuan imigran asal Jamaica yang lagi pusing gimana caranya supaya dia dan keluarganya ga dideportasi dari Amerika, nggak banyak mikir atau punya ekspektasi khusus waktu dipertemukan sama Daniel - cowok keturunan Korea tapi besar di Amerika yang juga lagi pusing mikirin masa depannya.


Nyatanya ucapan ucapan valid Daniel dan juga usaha yang dikeluarkannya malah membuat Tasha membuka mata dan memberi kesempatan perspektif baru masuk dalam hidupnya. Seiring momen yang mereka habiskan, Natasha jadi mulai sadar bahwa jangan-jangan benar bahwa ini adalah takdir yang dituliskan untuk hidupnya.


Ini tentang perjalanan satu hari Natasha dan Daniel. Natasha yang akan segera dideportasi karena ulah bapaknya yang sudah ia sadari bahwa bapaknya adalah sumber masalah utama keluarganya sejak dulu. Ia mencari bantuan dari pengacara lokal untuk membuatnya bertahan di Amerika karena ia tidak ingin meninggalkan mimpi dan teman-temannya.


Sementara Daniel datang dari keluarga dengan standard akademis yang tinggi. Hari itu Daniel harusnya wawancara magang agar CVnya tampak bagus ketika mendaftar universitas, namun diperjalannya ia malah bertemu dengan Natasha perempuan yang menarik hatinya dan ia merasa bahwa takdir memaksanya untuk selalu dekat dan mengikuti gadis ini.


Sekarang aku mengerti betul apa yang menjadi titik menarik novel ini sehingga menuai banyak pujian: it's not only about love story, ini tentang 2 remaja dari keluarga imigran yang memiliki latar belakang, kultur, dan situasi berbeda mencoba fit in dengan kehidupan Amerika.


Karakter dingin Natasha langsung mencuri hatiku karena pendiriannya yang konsisten. Kenyataan bahwa dia sedikit keras kepala tapi dalam hatinya tetap luluh sama Daniel sangat menggemaskan. Aku sendiri suka ketika dia berani dan cuek aja ketika orang orang sekitarnya memojokkan dia. Walaupun karakter Daniel ini ga loveable banget tapi penggambaran kultur Koreanya berasa banget dan bagaimana dia mengenalkan kultur Korea ke Natasha.


Setiap chapter, novel ini disampaikan dari sudut pandang seorang karakter. Bisa dari sudut pandang Natasha, Daniel, atau kadang supir taksi, penjaga imigrasi, bahkan unviverse. Ada beberapa perspektif random yang kaya ngambil dari text book atau filosofis banget tapi nggak begitu berpengaruh ke jalan cerita, kayaknya supaya romantis aja.


Aku suka banget bagaimana penggambaran 2 keluarga yang bener-bener berbeda latar belakang tapi sama-sama imigran jadi bisa kasih gambaran susahnya para imigran di Amerika itu seperti apa dan bagaimana kuatnya kultur negara asal mereka mempengaruhi cara bersikap. Bayangin aja ketika perempuan asal Jamaika disandingkan dengan pria asal Korea, wow tidak terbayangkan!


Cara cerita mengalir juga sangat menyenangkan, walaupun banyak sekali perspektif yang mengamini tentang takdir dan kebetulan tapi ceritanya berakhir nggak kelewat ngadi-ngadi, nggak dipaksain, dan nggak ngebelain karakter banget. Pembawaannya ringan tapi emang alurnya berasa lambat mengingat ini hanya menceritakan 24 jam kehidupan mereka. Denger-denger inspirasi cerita ini dari kisah langsung penulisnya loh walaupun tidak sama persis yaa.


Salam Hombimba,


Graisa

xoxo

LET THE POSTS COME TO YOU