top of page

You'll Always Be Missed


Akhir pekan itu, setelah sekian lama gue kembali lagi ke kota ini. Kota yang menyimpan berjuta cerita dan memori masa kecil. Untuk gue, memang kota ini nggak ada habisnya untuk diceritakan. Tiap kali menginjakkan kaki kembali, ada saja hal yang ikut terbawa pulang. Dan sebagian yang sengaja ditinggalkan karena memang tempatnya di sana.

Seperti yang satu ini.

Sudah tujuh tahun sejak terakhir gue menapakkan kaki gue di area ini. Hiruk pikuknya masih nyata terdengar di telinga, kapanpun gue memejamkan mata akan kembali lagi memori yang dulu pernah ada. Semerbak wangi pewarna rambut, pengering rambut, campuran sabun dengan air, dan senyuman ikhlas nan hangat orang - orang di dalamnya.

Semua wajah masih tampak familiar hingga mata kami berpandangan. "Elo." Ujar gue. "Hai kak." Jawabnya.

Bingung bagaimana harus mengutarakan memori dengannya. Semuanya tampak rabun dan rasanya senyap. Tidak pernah ada aktivitas yang terlalu manis yang perlu diingat selain curi-curi pandang mata semenjak 12 tahun lalu. Wajahnya tidak berubah, tampak sama hanya ada sedikit kerutan di beberapa garis wajah. Yang gue ingat, kepala gue menolak membalas tiap kali pandangannya diarahkan kepada gue.

Tidak pernah ada rasa emosional yang berlebihan, hanya ada satu rasa mengganjal.

Mungkin ada beberapa curian momen sehingga ada aktivitas yang melibatkan kami berdua, tapi pun gue tidak ingat. Karena memang bukan aktivitasnya yang perlu diingat, tapi raut wajahnya yang justru tak mau dilupakan. Kesan intimidating namun juga penuh keramahan. Melihatnya kembali membuat gue menyadari bahwa rasanya ada beberapa hal yang mungkin belum terselesaikan.

"Dua" Jumlah anaknya kini. Gue tersenyum walaupun tak menyangkal bahwa dalam hati terbelalak tau kenyataan itu. Dia ikut tersenyum hangat, matanya mengawang-ngawang seperti ada sesuatu yang tidak tersampaikan dan menolak juga untuk menyampaikan. Senyumnya sehangat seakan mengingat anak-anaknya di rumah.

"Rasanya ingin menyelesaikan...." Sahut gue perlahan "tapi..." lanjut gue ragu.

"Tidak ada kan?" Tanyanya memberanikan diri. Gue mengangguk menyetujui pilihan kalimatnya

"Karena memang tidak ada yang dimulai." Tambahnya memandang lurus ke balik jendela - jendela kaca itu.

Tangan kami berjabat, rasanya saling berbisik kepada memori "Ayo ikut, sekarang saatnya tepat" yang kemudian di balas tangan lainnya

"Tidak. But you will always be missed."

"Sampai ketemu lagi ya kak, sering-sering main kesini" Menjadi kalimat penutup sebelum gue melangkahkan kaki keluar dan membiarkan dengan ikhlas sebagian memori memang tercipta untuk ditinggalkan. Gue tersenyum mengangguk, mungkin bukan orangnya yang penting, atau aktivitas bersamanya, tapi perasaannya saja yang terlalu kuat.

Salam Hombimba,

Graisa

xoxo

bottom of page