Dear Kids, This is My Moment During Corona Virus

Dear kids,

Postingan ini Ibu tunjukkan untuk kamu, anak-anak Ibu. Untuk tau apa yang saat ini sedang terjadi di Indonesia. This is gonna written down in history, so let me tell you what's the real deal here and what am I doing during this outbreak. You won't like it so please be grateful for everything you've got right now.


Jakarta, 2020

Lupa kapan tepatnya yang pasti sekitar awal tahun, tiba-tiba sosial media dimarakkan dengan berita bahwa ada virus baru yang menyebar. Namanya Virus Korona (Corona Virus). Kenapa dinamakan Corona Virus? Kabarnya karena bentuk virusnya yang menyerupai crown dengan mahkota di sekitarnya - anyway WHO got every right to give the name, so don't ask me.


Awalnya virus ini datang dari Wuhan, sebuah kota di China. Banyak yang bilang virus ini gampang menyebar sehingga mengakibatkan tumpukan orang di rumah sakit yang kemudian dibuktikan lewat video di sosial media yang beredar, it was chaos - I still able to recall the video in my mind and it was horrifying. Dengar-dengar sumber virus ini datang dari pasar hewan di mana "katanya sih" sumber penyakitnya dari hewan hidup yang pindah ke tubuh manusia.


Lalu tidak berapa lama, virus ini mulai menyebar ke area Hong Kong, Taiwan, dan Korea. Pada saat ini kondisi Indonesia masih baik-baik aja. Di kantor belum terasa impactnya dan belum banyak juga yang ngomongin.

Saat itu gue berencana untuk ke Jepang. Plan yang sudah lama direncanakan dengan sudah membeli semua akomodasi dan transport. Entah sudah berapa lama semenjak info virus ini tersebar tiba-tiba muncul berita bahwa beberapa negara lain sudah mulai terinfeksi termasuk Jepang, Thailand, Vietnam, dan Italia.


Gue masih ingat diskusi saat itu dengan tetangga gue, Fian, yang juga akan jadi partner travel gue ke Jepang nanti "Semoga pas kita jalan udah reda isunya yah" ujarnya di 1.5 bulan sebelum keberangkatan. Harusnya 18 Maret menjadi tanggal keberangkatan gue ke Jepang.


Memasuki bulan Maret, nyatanya kondisi tidak lebih baik. Gue mulai mendengar bahwa di Jepang kehabisan masker dan tisu toilet, sehingga penting untuk bawa masker dari Indonesia. Gue mulai mencari masker tapi nyatanya masker sudah mulai kosong di toko-toko.


Tiba-tiba Ibu gue chat "Masker isi 50 pcs sekarang harganya 250ribu padahal biasanya 25ribu." Gue hanya berkerut. Separah itu kah kondisinya?


Ketika wabah Korona udah mulai menjalar di negara negara Asia Tenggara, saat itu Indonesia belum ada yang terdeteksi sama sekali. Bahkan saat itu ada satu kapal (Princess Cruise if i'm not mistaken) di mana banyak warga Jepang dan staf orang Indonesia, sementara warga Jepang pada kena virus ini, staf orang Indonesia ini nggak ada yang terdeteksi terserang Virus Korona.


Hingga akhirnya dilakukan isolasi 14 hari karena ternyata virus korona ini bisa saja hinggap di tubuh dan baru terasa rekaisnya 14 hari kemudian. Di masa ini, usaha pemerintah untuk membuat rakyatnya tidak panik adalah dengan menjadikan joke pertanyaan wartawan seputar penanganan Virus Korona di Indonesia yang mana menjadi sesuatu yang dipermasalahkan masyarakat ketik isu ini semakin parah.


Memasuki pertengahan Februari, pesawat mulai banyak yang membatalkan jam penerbangannya, para tamu mulai membatalkan tripnya. Gue masih tertegun mempertanyakan apa yang harus gue lakukan dengan trip Jepang gue yang hampir 80% sudah siap dan terbeli semua.


Memasuki awal Maret , orang-orang mulai ramai dan sudah mulai sibuk pake masker, harga masker di online mulai dijual tinggi. Surgical Mask dibanderol 400k per box dengan isi 50 pcs sementara reusable mask dijual mulai 180-400 ribu tergantung tipenya. Orang-orang mulai borong dan dijual lagi dengan harga yang nggak wajar - well hukum ekonomi is real, isn't it?


Politisi sudah menggaungkan untuk menghindari aktivitas berjabat tangan. Tiba-tiba di kantor juga setiap ruangan mulai disiapkan hand sanitizer khusus. Gue mulai tersentak, is this getting real?


Awalnya gue masih berteguh untuk tetep ke Jepang karena kabarnya di sana baik-baik aja asal tetap cuci tangan dan pake masker. Penyebaran virus ini lewat cairan. Jadi kalau kita abis megang sesuatu terus itu masuk ke tubuh kita via mata atau mulut, kita bisa langsung terinfeksi, makanya orang-orang pada sibuk beli masker, sabun, alkohol, dan hand sanitizer. Sementara gue rasa gue masih bisa menjaga diri gue dari penyebaran tersebut


It was March 4th, kantor gue mengumumkan bahwa gedung kantor di Malaysia sudah ada yang positif terinfeksi Korona. Thankfully, bukan karyawan kantor gue - tapi nyatanya tetap membahayakan yang akhirnya berujung memindahkan kegiatan kerja ke rumah dan gedung dikosongkan. This is when I think what I watched in the movie became real.


Tanggal 9 Maret, seminggu sebelum keberangkatan ke Jepang, gue diskusi lagi sama Fian di Kimukatsu Grand Indonesia untuk menentukan apakah kita berangkat apa tidak dengan kondisi kaya gini mengingat jumlah korban di Indonesia langsung naik drastis. Setelah menghabiskan 2.5 jam berdebat dan membuat metriks resiko, kami memutuskan untuk memindahkan tanggal keberangkatan jadi Musim Panas dengan anggapan saat Musim Panas perpindahan virus lebih minim.


Hari itu hari Kamis 12 maret, kantor gue mulai memberikan pengumuman agar kita selalu bawa pulang laptop jika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk kerja dari rumah agar meminimalisir resiko penyebaran. Gue mulai menyadari bahwa operasional kantor gue juga mulai berdampak ketika melihat setiap departement terlibat dan sibuk menyiapkan penanggulangan kekhawatiran orang-orang.


Hari Jumat tanggal 13 maret, gue masih ketemu sama Ais untuk makan Kintan selepas kerja. Kami menghabiskan waktu sampe malam dengan makan dan ngobrol panjang.

Sedikit kita tahu bahwa kondisi semakin parah malam itu.


Benar adanya.

Hari Minggu tanggal 15 Maret jumlah korban makin banyak di Indonesia hingga 50 kali lipat dan pemerintah memerintahkan untuk setiap orang bekerja dari rumah dan tidak kemana-mana. Kantor secara resmi mengumumkan bahwa akan dilakukan Working from Home selama seminggu.


Hingga saat ini.

Tanggal 29 Maret, Working from Home masih terus diperpanjang hingga waktu yang tak ditentukan.

Pengumuman larangan untuk mudik (yang notabene-nya masih 2 bulan lagi) kian digaungkan.

Sholat jumat, kebaktian, acara pernikahan mulai ditiadakan.

Pasar, mall, tempat hiburan tidak lagi diizinkan.

Jangankan ke kantor bahkan untuk ke super indo depan rumah aja harus mikir berkali-kali dan dapet approval dari ayah.

Hingga kini, gue pun belum ketemu lagi dengan Ais setelah pertemuan terakhir kita di tanggal 13 Maret. Rumah yang hanya berjarak 5KM terasa jauh dengan kekhawatiran virus ini tersebar dimana-mana.


Ini adalah titik di mana berita dan sosial media mulai mempertunjukkan ketidak warasan manusia.

Supermarket diborong dengan jejeran sabun, snack, frozen food habis terjual tanpa memedulikan orang lain.

Tenaga medis menggunakan perlengkapan keamanan seadanya karena keterbatasan ketersediaan.

Orang saling berlomba menasehati dan membuat cerita.

Jalanan Jakarta sepi seakan bumi meminta untuk beristirahat.



Sudah 2 minggu terakhir gue dan keluarga kerja dari rumah. Setiap pagi jam 10 ke halaman depan atau belakang hanya untuk mendapatkan sinar matahari agar kulit tidak kering. Makan lebih teratur dengan Ibu yang selalu berusaha sebaik mungkin menyiapkan makanan yang cukup.


Bosan? Enggak, sangat menikmati hidup di rumah aja. Kerja juga sangat produktif.

Tapi nggak kebayang orang-orang yang masih harus terpaksa ke kantor karena kerjaannya bersifat confidential, nggak bisa dikerjain dari rumah atau sekedar kalau nggak kerja, mau makan apa malam ini?

Padahal resiko terinfeksi di jalan juga sangat tinggi.


Di saat ini, gue masih berusaha untuk keep in touch sama temen-temen via video call - karena memang hanya itu yang bisa dilakukan untuk bisa menjaga hubungan sosial.

Menyibukkan hari-hari gue dengan membuat video, baca buku, atau menonton film daripada melihat sosial media yang penuh dengan berita negatif hingga memusingkan kepala.

Orang-orang sibuk mencari hiburan dengan membuat tantangan macam-macam di instagram.

Di twitter, orang-orang sibuk menulis thread pengalaman mereka kena virus Korona.


Momen ini menyedihkan tapi juga waktu yang tepat untuk bisa membuat kita berkaca diri, flashback apa aja yang udah kita lewatin, apa aja yang perlu kita syukurin.

Dulu mungkin terlalu sibuk keluar hingga lupa waktu, sekarang banyak waktu sama keluarga, banyak waktu juga untuk istirahat.


Gatau pandemik ini akan berakhir kapan, yang pasti di saat ini cuma bisa bersyukur apa yang bisa disyukuri, menjaga jarak dari orang lain dengan tetap di rumah, saling menjaga kesehatan orang rumah dan berdoa semoga kehidupan menunjukkan titik lebih baik.


Nyatanya uang tidak menjamin 100% keamanan, di titik ini sadar betul walaupun punya uang kalau barang tidak tersedia, keamanan pun tetap terancam. Uang perjalanan ke Jepang jika memang hangus maka harus diikhlaskan ketika kesehatan adalah prioritas utama.


Nggak pernah lagi ngerasa rugi untuk membagi sekecil apapun kebaikan untuk orang lain, untuk bisa membuat mereka juga bersyukur dan lebih aman.


Untuk kamu, tetap aman dan sehat selalu. Sampai ketemu lagi di area tanpa atap, ketika kita bisa menghirup udara lagi bersama, dan bersyukur bahwa dikasih kesempatan kedua.


And you, my lovely kids, I wish you have a better life to live by now. Love the earth because they will love you with all of their heart. And trust me, you don't want to live in the past.


Salam Hombimba,


xoxo

Graisa


SEARCH
ABOUT ME

A Ravenclaw-kind-of-girl. Unstoppable talker. Clichest & blurnest thinker. 

I write about books, films, art performances, and my daily  thoughts during traffic jam.

GET IN TOUCH
  • YouTube - Grey Circle
  • Twitter - Grey Circle
  • Instagram - Grey Circle
  • LinkedIn - Grey Circle
BE THE FIRST ONE TO KNOW
NEW FROM THE OVEN
YOU MAY LIKE THIS ONE
Logo ungu Transparent.png
  • YouTube - Grey Circle
  • Twitter - Grey Circle
  • Instagram - Grey Circle
  • LinkedIn - Grey Circle