Review Film The Tinder Swindler (2022): Penipu Ulung Berkedok Miliarder



Review The Tinder Swindler / Review The Tinder Swindler Bahasa Indonesia (2022) | 3.5/5

U.S

Sutradara: Oriol Paulo

Pemain: Cecilie Fjellhøy, Pernilla Sjöholm, Ayleen Charlotte, Kristoffer Kumar, Simon Levive

Tonton trailer

 

Pasti kamu pernah dengar penipuan atau scam kencan di Indonesia dengan modus kaya gini:

Seorang perempuan bertemu dengan pria asing lewat aplikasi chat kencan, dengan segala macam rayu pria ini membuat sang perempuan jatuh cinta dan menjanjikan segalanya. Biasanya pria ini merupakan bule atau berasal dari luar negeri, ketika pria ini menjanjikan untuk nyamperin ke Indonesia dia akan berkata bahwa ia ditahan di imigrasi dan butuh biaya untuk membebaskannya sehingga akan minta perempuan itu untuk transfer sejumlah uang.


Situs kencan online, rayu janji manis dan minta uang tampaknya modus yang nggak cuma dilancarkan untuk orang Indonesia. Dengan kedok yang hampir mirip, The Tinder Swindler mencoba membeberkan kisah nyata penipuan yang dilakukan oleh Simon Leviev.


Cerita ini disampaikan oleh Cecilie Fjellhøy, Pernilla Sjöholm dan Ayleen Charlotte. Ketiganya menjabarkan Simon sebagai seorang pria berkabangsaan Israel yang menemukan mereka via Tinder lalu membangun hubungan romansa atau kedekatan emosional sebelum akhirnya ia meminta sejumlah uang.


Dalam kedoknya, Simon memperkenalkan diri sebagai sosok miliarder dengan gaya hidup mewah, mengekspos bahwa ia merupakan anak dari perusahaan berlian yang memiliki musuh banyak. Dengan premis banyak musuh, ia selalu berdalih bahwa hidupnya terancam dan tidak bisa melakukan transaksi menggunakan namanya agar tidak terlacak sang musuh sehingga ia membutuhkan pasangannya untuk mengirimkan uang cash atau meminjam kartu kredit pasangannya.


Trik awalnya adalah dengan mengajak perempuan sasarannya untuk menikmati kemewahannya dahulu - mulai dari pertemuan di hotel berbintang, terbang dengan jet pribadi, mobil mewah, hingga pesta di klub malam.


Lewat pengalaman yang ditawarkan Simon, para perempuan ini yakin bahwa Simon memang miliarder karena uang yang dihabiskan ribuan dolar dalam satu hari.


Yang mereka tidak tahu adalah kenyataan bahwa uang yang didapatkan Simon untuk menunjukkan kemewahan adalah hasil mengelabui perempuan lainnya sehingga tercipta lingkaran setan dimana Simon menggunakan uang dari perempuan lain untuk mengumbar kemewahan kepada sasaran selanjutnya.


 

Dibalut dalam dokumenter dengan pengambilan gambar apik rasanya nggak heran kalau denger orang yang pun nggak biasa nonton dokumenter akan sangat menikmati film yang satu ini.


Cara Felicity Morris (Don't F**ck With Cats, 2019) membangun ceritanya sangat menyenangkan dan tidak terburu-buru - walaupun banyak yang mengatakan bahwa 2 jam terhitung durasi yang lama untuk film ini sehingga membuat banyak similar event yang diceritakan berulang, tapi untuk gue rasanya pace-nya tepat dan mampu mengumpulkan segala emosi di awal sebelum sampai ke klimaks utama masalahnya.


Yang menarik untuk gue adalah ketika kronologis cerita berada dalam timeline waktu yang sama, film ini bisa menjabarkan tiap momen dengan cara yang asik sehingga bikin penonton berdecak kagum dengan cara bercerita filmnya sembari merasakan jijik dengan kejahatan sosok Simon di waktu yang sama.


Bayangin ya, si cowok ini bisa menipu cewek dari negara yang berbeda mulai dari Inggris sampai Praha dengan cara yang sama, kemewahannya membuat dia tidak pernah menetap di satu negara, kecerdikannya membuat ia bisa mengakses penuh informasi perempuan yang ia dekati lewat details passport para perempuan yang dipegangnya.

Mungkin ketika nonton ini kita berangkat dengan persepsi bahwa film ini hanya menghadirkan cerita yang tujuannya sekedar light information dan mengisi waktu. Tapi kalau didalami lagi filmnya hingga akhir, penonton jadi disadarkan bahwa film ini bisa jadi salah satu usaha untuk mengekspos lebih luas sosok Simon yang memiliki power yang kuat dan handal dalam menipu.


Walaupun dokumenter ini fully support sisi korban, semua yang udah dibangun dalam 3/4 film mampu menjatuhkan harapan penonton dengan fakta yang dijabarkan di akhir film - yang mana menunjukkan seberapa PENTINGNYA film ini dibuat dan disebar luaskan.


Karena pada akhirnya kita tahu, usaha kemenangan yang korban bisa lakukan hanya membuka kebusukannya saja agar tidak ada korban lainnya - sementara kerapihan permainan Simon tidak dapat dihentikan.


Selain penulusuran dari korban terhadap Simon, film ini juga mampu meng-capture gambaran isu sosial yang kerap menyalahkan korban ketika hal ini terjadi. Bahwa kerap kali perempuan yang dianggap bodoh dan matre untuk bisa menerima sosok kaya Simon dalam hidupnya.


Epilog film ini mampu membuat gue tercengang dan membayangkan bagaimana nasib kenyamanan hidup para korban yang berani untuk menjabarkan ini semua. Walaupun masih banyak hal yang mereka tanggung, tapi sebagaimana kata Cecillie "The moment they Google him now, it will be there" dan yang paling penting pesan bahwa yang bermasalah adalah sosok didalamnya bukan aplikasinya hence this won't stop them to find their love!



Film ini akan sedikit mengingatkan kita lagi dengan autobiografi Catch Me If You Can (2002) dalam versi modern. Walaupun di film Leonardo Di Caprio itu banyak poinnya yang dipertanyakan kebenarannya, The Tinder Swindler sendiri juga mungkin menaruhkan kesan yang berbeda-beda. Melihat lambatnya penanganan dalam kasus ini mungkin akan muncul juga pertanyaan orisinalitas tiap ceritanya.


Dokumenter The Tinder Swindler ini jugadirencanakan untuk akan diangkat menjadi film drama di waktu mendatang. Kira kira kamu bakal tertarik ga nontonnya? Silakan nonton The Tinder Swindler dengan subtitle Bahasa Indonesia di sini untuk nonton yang versi dokumternya dulu and let me know what you think!



Salam Hombimba,


Graisa

xoxo