Review Film Sabar Ini Ujian (2020): Mematahkan Asumsi Mainstream Drama Romantis



Review Sabar Ini Ujian (2020) | 8.5/10

Indonesia

Sutradara: Anggy Umbara

Pemain: Vino G. Bastian, Estelle Linden, Ananda Omesh, Luna Maya

Tonton trailer

Sabar Ini Ujian adalah film Indonesia pertama yang menyajikan konsep timeloop. Apa sih Film Timeloop itu? Film timeloop adalah film yang menceritakan satu karakter terjebak di dalam satu waktu/hari. Mau berusaha menghindar bagaimanapun, karakter ini akan mengulang waktu/hari yang sama. Referensi film timeloop mainstream lainnya yang juga gue suka ada Happy Death Day (2017) atau Before I Fall (2017).


Berbeda dengan 2 film tersebut yang mengusung tema Horror/Thriller dan Mystery/Drama, Sabar Ini Ujian memiliki genre Drama Komedi. Menceritakan tentang Sabar (Vino G. Bastian) yang kerap terbangun di hari yang sama yaitu 11 April 2020, hari pernikahan mantan kekasihnya, Astrid (Estelle Linden) yang masih ia cintai. Setiap pagi ia dibangunkan oleh Ibunya lewat telfon yang terus mengingatkan dia untuk hadir ke pernikahan tersebut.


Ketika melewati hari tersebut dengan susah dan kembali ke rumah dengan lelah, esok paginya Sabar menemukan dirinya terjebak di hari dan tanggal yang sama. Awalnya ia kira ini adalah prank yang dijalankan sahabat-sahabatnya, namun setelah menyadari bahwa hal itu terus berulang ia mencoba mencari cara dengan melakukan hal-hal yang berbeda untuk meyakinkan orang di sekitarnya bahwa ia terjebak di satu ruang waktu dan berusaha mencari jalan keluar.


Sabar meyakini bahwa ini adalah pertanda bahwa dia harus melakukan sesuatu di hari tersebut agar bisa berlanjut ke hari setelahnya. Maka ia berusaha untuk mencari tahu berbagai cara apa yang perlu ia lakukan terhadap hubungannya dengan Astrid.



*Paragraf dengan warna merah mengandung spoiler hingga akhir cerita, silakan dilewati jika tidak ingin mengetahui akhir film.

------

Sabar fokus terhadap pertanda bahwa ia harus mengembalikan atau merelakan hubungannya dengan Astrid. Namun walaupun sudah serela apapun, ia masih terjaga di hari yang sama.


Sabar yang frustasi menemui ibunya yang menyadarkan bahwa merelakan bukan sekedar mengikhlaskannya tapi juga memaafkan. Sabar diingatkan bahwa kesalahannya dulu di hubungannya degan Astrid akibat ia tidak berani melangkah lebih lanjut karena trauma Ayahnya yang meninggalkan Ibunya dan dia sejak kecil, ia hanya tidak ingin berakhir menjadi seperti bapaknya.

Menurut Ibunya, Sabar harus mengikhlaskan dan memaafkan bapaknya untuk bisa punya hubungan yang lebih baik. Sabar yang menyadari hal tersebut pun menemui ayahnya dan mengetahui alasan Ayah meninggalkan Ibunya dulu yang selama ini hanya salah paham. Little did he knows, hal itu ternyata menjadi kunci kehidupannya.

Mengusung konsep yang belum pernah dibuat dalam balutan timeloop emang menarik tapi mengetahui bahwa film ini juga dibuat tidak tanggung tanggung menjadikan film ini semakin menarik sehingga ga heran banyak mendapat pujian.


Bagaimana film ini menuturkan cerita sangat sederhana dan mudah dicerna. Karakter Aryo berusaha memuaskan asumsi mainstream yang dipikiran penonton "ah ini pasti intinya harus relain astrid nih" "ah ini pasti nanti bakal ketemu sama cewek lain nih" bahkan asumsi "ah ini pasti bakal jadinya sama temennya Astrid nih" semua coba dirangkum oleh film ini.



Namun, asumsi mainstream tersebut dipatahkan dengan pilihan akhir cerita yang harusnya sudah bisa diketahui sejak adegan awal, bahwa ini bukan hanya sekedar drama romantis dan hubungan percintaan. Film ini memainkan perspektif mainstream sampai dengan 98-99% film berjalan sampai akhirnya dijelaskan apa penyebab dibalik semuanya yang membuat orang merasa di-twist. Menarik, karena sejujurnya gue nunggu twistnya dimana tapi ga dateng dateng hampir meremehkan eh baru di adegan terakhir, penutup yang bikin getir.


Melihat Vino di sini seperti melihat Reza Rahadian di Kapan Kawin (Ody C. Harahap, 2015) tampak lepas, santai, jadi dirinya sendiri, dan ada beberapa line yang tampaknya improvisasi - kalau bukan improvisasi berarti Vino emang naturally keren aja sih. Omesh tampak berusaha menyatu dengan Vino tapi masih dalam taraf menyenangkan untuk ditonton. Luna Maya yang gue kira cuma sekedar cameo ternyata punya andil yang lumayan juga terhadap karakter Aryo.



Karakter pendukungnya mungkin punya skill akting yang kurang banget termasuk chemistry-nya dengan Vino cuma nggak masalah karena emang kehadirannya nggak penting juga sih di film ini. Jokesnya juga norak tapi yaudahlah kelas Rigen dan Rispo juga, what can we expect? Film ini bisa tampak lebih natural kalau aja hari-hari berulangnya Aryo nggak dibikin lebay banget sampe puluhan kali, sampe travel dengan efek ala Anggy Umbara atau mengulang hanya sekedar membuktikan warna celana dalam which is nggak penting banget!


Oiya buat yang mau nonton karena Anya Geraldine, dia masih seperti biasa ya, awkward dan tampak belum sepenuhnya nyaman dengan postur tubuhnya yang menjulang dibanding lawan mainnya.


Sebagai debut film pertama Disney+ Hotstar memproduksi film Indonesia, sesungguhnya hal yang perlu diacungi jempol. Pilihan film yang bagus untuk mengenalkan kualitas dan membuat orang tertarik untuk nonton. Sayang kayaknya marketingnya kurang heboh sehingga film ini hanya ramai dikalangan orang yang emang suka nonton film.


Kalau orang nanya film Indonesia yang ringan dan oke apa, mungkin ini akan menjadi salah satu yang gue sebutkan. Secara kompleks mungkin gak kaya film biasa tapi mengingat alurnya mudah dimengerti rasanya siapapun bisa mendapatkan pesan matang dari film ini


Salam Hombimba,


Graisa

xoxo


SEARCH
ABOUT ME

A Ravenclaw-kind-of-girl. Unstoppable talker. Clichest & blurnest thinker. 

I write about books, films, art performances, and my daily  thoughts during traffic jam.

GET IN TOUCH
  • YouTube - Grey Circle
  • Twitter - Grey Circle
  • Instagram - Grey Circle
  • LinkedIn - Grey Circle
BE THE FIRST ONE TO KNOW
NEW FROM THE OVEN
Logo ungu Transparent.png
  • YouTube - Grey Circle
  • Twitter - Grey Circle
  • Instagram - Grey Circle
  • LinkedIn - Grey Circle