Review Film Negeri Van Oranje (2015): Manis dan Memanjakan Mata



Review Negeri Van Oranje (2015) | 8/10

Indonesia

Sutradara: Endri Pelita

Pemain: Tatjana Saphira, Chicco Jerikho, Abimana Aryasatya, Ge Pamungkas, Arifin Putra

Tonton trailer

Di hari pernikahannya, Lintang menceritakan kembali kisahnya kala bertemu dengan 4 sahabat karibnya di Negeri Kincir Angin, Belanda.


5 mahasiswa s2 Indonesia dipertemukan secara tidak sengaja di sebuah stasiun yang lalu mengesahkan diri mereka menjadi sebuah geng bernama Aagaban. Mereka adalah Lintang (Tatjana Saphira) si yang paling cantik dan perempuan satu-satunya, Gerry (Chico Jerikho) si parlente yang paling gentle & kaya, Wicak (Abimana Aryasatya) si kalem yang selalu meneduhkan, Banjar (Arifin Putra) yang petantang petenteng, dan Daus (Ge Pamungkas) yang paling pintar dan kocak.

Kelima mahasiswa ini tinggal di kota yang berbeda, Lintang menceritakan sudut pandangnya ketika menghabiskan waktu secara personal bersama keempat sahabatnya. Lewat wisata berdua dengan tiap sahabatnya, Lintang mengenalkan tiap karakter dan kejadian-kejadian kecil menarik yang membangun film ini mulai dari kecopetan, makan jajanan pinggir jalan, atau sekedar duduk bersantai pinggir sungai.


Mengingat kayaknya mereka udah pada semester akhir, hari hari mereka dihabiskan dengan jalan-jalan mengitari Belanda memberi info menarik seputar sejarah Belanda, merayakan hari raya di Belanda dan juga jalan-jalan di sekitar Eropa - pokoknya happy happy aja deh!


Lintang lalu menyadari bahwa dia tidak bisa menganggap keempat sahabatnya hanya sekedar "sahabat". Ketika dalam posisi sedih dan patah hati, Lintang menemukan dirinya terjebak menyayangi 1 sahabatnya lebih daripada yang lainnya. Konflik pun dimulai yang membuat Lintang mempertanyakan, siapa sebenernya orang yang tepat untuknya?


Orang yang kemudian akan menjadi pasangannya di pernikahan hari itu.


*Paragraf dengan warna merah mengandung spoiler hingga akhir cerita, silakan dilewati jika tidak ingin mengetahui akhir film.

------

Disaat Lintang putus dengan pacar Belandanya, perhatian yang Gerry kasih membuat Lintang mengartikan lebih. Lintang pun ingin menyampaikan perasaannya pada Gerry. Namun ia menemukan bahwa Gerry telah memiliki kekasih yang ternyata seorang pria.


Kaget, Lintang pun merasa kecewa dengan dirinya sendiri dan meminta Gerry untuk terbuka saja ke Aaagaban. Gerry pun akhirnya mencoba membuka diri ke yang lainnya yang disambut hangat dengan sahabat-sahabatnya. Gerry pun mengusulkan untuk mereka mengambil waktu istirahat sejenak dengan berwisata ke Praha.


Di Praha, Lintang tidak sengaja mendengar candaan bahwa keempat sahabatnya tengah memperebutkan dan bertaruh mendapatkan dia. Karena kecewa Lintang pun pergi dan berusaha dicari oleh sahabat-sahabatnya. Disitulah Lintang ditemukan oleh Wicak yang ternyata selama ini memendam rasa lebih kepada Lintang namun ia memilih untuk menutup diri karena takut Lintang marah padanya.

Film Negeri Van Oranje merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karya Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Annisa Rijadi, dan Rizki Pandu Permana. Novelnya sendiri sebenarnya memiliki alur yang panjang karena emang mendalami karakternya satu-satu banget. Novel ini pertama kali dibuat untuk bisa ngasih tips menarik untuk mereka yang ingin bersekolah di Belanda.


Karena dari novelnya emang fokusnya kehidupan pelajar dari Indonesia di Belanda jadi banyak hal tentang life hack di universitas yang mungkin nggak seru kalau divisualisasikan, jadinya mungkin novelnya beneran cuma bahas yang hal-hal fun aja. Tapi kayaknya kelewat fun, karena emang rasanya ini orang orang kerjaannya happy happy mulu.


Walaupun para pecinta bukunya banyak yang merasa pemainnya nggak cocok, gue malah ngerasa komposisinya cukup. Tatjana yang memerankan Lintang ini sebenernya dapet banget manisnya, girly-nya, dan anggunnya cuma emang Tatjana ini masih susah bangeeet dapet chemistry sama lawan mainnya jadi dia kaku, main sendiri, dan kayak ngafalin script aja. Daus dan Chicco ini style-nya juga lumayan menggambarkan karakter tapi emang mohon maaf Chicco tampak om-om banget kak dibanding Tatjana!!


Gue juga ingin mengapresiasi Arifin Putra yang satu-satunya berusaha have fun sama syuting dan karakternya sehingga tampak effortless ketika ngeluarin line-line candaan. Kayaknya emang dia mencoba sesantai mungkin sehingga tampak natural kaya ketika ngomong "Ngomong bahasa belanda mulu, kaya kompeni lo".


Yang suka Abimana Aryasatya merapat aja karena bakal dibuat meleleh sama tone suaranya dan cara sikapnya yang cool gitu walaupun line script yang dia dapet basi banget kata-katanya bikin cringe.



Kritik lainnya yang sering gue baca adalah bagaimana plot twistnya murahan dan joke soal ke sex toys store & ketakutan akan ditaksir LGBT rasanya nggak sesuai banget sama status mereka yang udah s2.

Sebenernya kalau dibaca dari novelnya, plot twistnya lumayan ngena karena emang dari awal sudah dibangun dengan matang persona tiap karakter dan struggle tiap karakter. Sementara dikerjain dengan masuk ke sex toys store & LGBT itu juga sebenernya masuk ke karakternya dan relevancy pasar Indonesia. Saat itu karakternya Daus yang emang datang dari persona yang agamanya kuat banget dan datang dari keluarga close minded, jadi nggak heran kalau itu hal yang mengejutkan buat dia.


Mungkin salah satu kesusahan memvisualisasikan novel ini karena karakternya ini erat banget sama personanya. Dan personanya dibangun sama satu kejadian ke kejadian yang lain, makanya filmnya lebih ngambil sudut pandang Lintang yang mencoba mendeskripsikan tiap karakter. Tapi tetap saja karena persona dibangun nggak dalam waktu cepat, kayaknya 1.5 jam film nggak sampai ke titik engaged with character.


Beberapa adegan yang gue rasa bisa dibuat lebih oke tapi sayangnya mungkin keteteran sama tim produksinya adalah wisuda Lintang yang kayaknya B aja banget, putusnya Lintang sama pacarnya yang kayaknya juga dipaksakan. Tiap kejadian juga kaya sekedar ngambil kejadian besar dari novel terus dibangun sendiri-sendiri jadi tampak nggak ada korelasinya. Another problem mungkin chemistry tiap karakternya yang sekedar lewat aja.


Kalau mau nonton ini gue akan menyarankan orang nggak usah pasang ekspektasi tinggi-tinggi. Filmnya pure pengen ngajak penonton untuk tenggelam di kehidupan di Belanda aja dan ikut asik-asikan sama Aagaban. Berbeda dengan film dengan lokasi luar negeri lainnya, film ini dramanya ringan tapi nggak monoton, soundtrack, visual dan coloringnya pun cantik jadi enak buat dinikmatin.


Kalau suruh milih gue tetep akan merasa bukunya jauh lebih valuable. Tapi filmnya adalah film yang gue bisa tonton berkali-kali karena seringan tapi semenyenangkan itu buat ditonton!


Salam Hombimba,


Graisa

xoxo

LET THE POSTS COME TO YOU