So-called, Self Love

Banyak hal yang terjadi di hidup gue akhir akhir ini. Momen yang susah diceritakan karena bahkan gue nggak menceritakan ke orang terdekat gue.


Momen ini terus membuat pertanyaan-pertanyaan yang gue kelimpungan cari jawabannya. Pertanyaan sederhana yang terus membuat gue mempertanyakan pola pikir gue sendiri. Beberapa pertanyaannya pun sebenarnya punya andil cukup besar untuk gue melangkah kedepannya tapi gue seakan stuck di dalam satu labirin dan nggak bergerak.


Seperti biasa, ketika ada di momen ini pastilah blog jadi jalan keluarnya untuk gue mengutarakan semuanya.


Sederhananya, gue kerap membenci semua keputusan yang pernah gue buat. Keputusan-keputusan kecil yang sebenernya nggak punya dampak besar tapi rasa bencinya sampai menusuk ke dalam hati. Ini terjadi dalam hal apapun, cara gue berbicara dengan orang lain atau di sosial media, cara gue membuat konten, cara gue menilai sesuatu, cara gue merencanakan sesuatu, cara gue melakukan sesuatu di masa lalu. Rasanya kayak gue malu sama diri gue sendiri melakukan hal tersebut.


Gue terus mempertanyakan kenapa gue membenci hal yang orang lain nggak pernah permasalahin. Tapi kalau semakin dipikirin bikin gue nangis dan nggak tega kalau gue segitu membenci diri gue sendiri padahal diri gue ini yang udah bawa gue ke perjalanan yang jauh.


Orang terus-terusan ngomong soal self-love, gue pun sebenernya setuju tapi entah kenapa itu susah banget untuk dipraktikan. Rasanya kaya gue yang tidak mengenal diri gue sendiri, gue yang tidak mau berdamai sama diri gue sendiri.


Di malam hari, sembari mendengarkan lagu, gue mencoba berdialog sama diri gue sendiri, mencoba memaafkan kesalahan yang udah gue lakukan dan mencoba lebih baik kedepannya. Tapi hal itu terus berulang, gue melakukan suatu hal kecil tapi langsung menyesalinya. Ini kerap terjadi termasuk di sosial media, makanya mungkin gue kerap menghapus atau mengedit yang telah gue post secara regular atau gue terus mencoba mengganti hal yang sudah gue putuskan.


Apakah ini panggilan untuk gue perlu menarik diri dari keramaian untuk refleksi diri? Memaksa diri untuk benar-benar mempertimbangkan hal seratus kali sebelum melakukan sesuatu? atau justru tidak perlu memikirkan apa kata orang lain? Berhenti untuk overthinking?


Sulit untuk mencintai diri sendiri ketika masih belum memaklumi kesalahan yang udah diperbuat.


Medium yang saat ini bisa menuntun gue adalah youtube dan musik. Channel Youtube gue seperti cerminan gue tumbuh besar gue sendiri, bagimana gue berbicara, mengedit, memposisikan diri dari satu video ke video lainnya membuat gue seperti melihat diri gue berkembang dan gue bisa menerima kekurangannya.

Sementara musik adalah guru terbaik untuk membuat gue mengerti apa yang gue rasakan, memberi gue berbagai pilihan lirik untuk gue benar-benar mendalami apa yang sebenernya situasi gue.


Pertanyaan "mau hadiah apa ulang tahun?" jadi terdengar asing untuk gue, mungkin itu bentuk rasa bersalah gue yang sudah tega menyalahkan diri sendiri sepanjang tahun ini.


Gue orang yang mudah sekali mengucapkan terima kasih tapi sedih sekali mengetahui bahwa gue jarang mengucapkan banyak terima kasih untuk diri gue sendiri. Keseluruhan cerita ini nggak jauh sama topik yang orang bilang "oh ini artikel tentang self-love"


Apapun itu, situasi ini yang membuat gue menulis lagi. Gue senang sekali rasanya, sekarang nggak tau besok. Rasanya seperti berpelukan sama rumah, rumah yang selalu mengerti gue, rumah yang selalu ada.


Salam Hombimba,


Graisa

xoxo

LET THE POSTS COME TO YOU