The Day When Mentari is Getting Married

Minggu ini rasanya menjadi penutup tahun yang baik kalau tidak luar biasa.


Gue terbangun jam 7 pagi hari Sabtu ini, rasanya campur aduk ketika ingin melihat handphone. Sempat menyesal kenapa tidak bangun lebih awal untuk membalas chatnya tapi gue rasa yaudah dia pasti sibuk juga.


Oiya betul, hari ini hari pernikahan sahabat dekat gue - Mentari.


Instead melihat handphone, mata gue menjalar ke langit-langit mengingat lagi memori pertama kali gue akhirnya berteman dengan Mentari.


 

Waktu itu kelas 2 SMA, gue baru pindah dan mencari teman sebangku. Bak di film-film, kursi sebelah Mentari kosong saat itu dan karena saat itu sedang pemilihan OSIS, dia juga jarang ada di meja.


Kalau inget lagi rasanya aneh banget karena Mentari bukan tipe orang yang mau berbasa-basi sama orang baru jadi kayaknya ga mungkin banget dia yang nawarin "eh di sini aja" - ingatan gue juga bebayang untuk recall kenapa akhirnya gue bisa sebelahan sama dia.


Yang gue inget saat itu dia berpisah sama teman-teman dekatnya, teman-temannya masuk IPA dan dia memilih masuk IPS jadi dia moodnya lebih ke "ya gue juga ga peduli ga ada temen deket di kelas ini, bodo amat gue asik sendiri aja"


Jadi lumayan bisa ketebak hubungan dingin kita walaupun sebangku. Sepertinya waktu itu dia banyak sibuk kegiatan OSIS juga Paskibra, jadi faedah gue cuma bantu mengingatkan tugas-tugas sama pelajaran yang ketinggalan.


Setiap jam kosong dia lebih memilih pake earphone dan nyalain iPod-nya yang berisi ribuan lagu yang mana dia masukin lirik juga dan melipat tangan untuk tidur di meja. Mengingat posisi dia di OSIS saat itu dituntut harus esktra lebih banyak latihan fisik dari divisi lainnya, gue biasanya cuma memandang sambil bergumam "pasti lo capek banget deh"


Karena kita duduk paling depan jadi biasanya gue ngobrol sama temen bangku belakang gue. Yang masih gue inget adalah it took almost 6 months sampe akhirnya kita bener-bener sadar satu sama lain "eh oh lo tuh temen sebangku gue!"


Kehidupan kita yang tadinya sendiri-sendiri mulai melebur bermula ketika ngomongin guru, guru akutansi yang waktu itu baik banget terus kita berdua amazed. Lalu beralih gue yang suka merhatiin buku-buku novel bahasa inggris yang dia baca, saat itu gue belum bisa sama sekali baca buku bahasa inggris. Kadang juga suka bonding kalau lagi ke kantin berdua dan harus nungguin dia makan lama banget dan baru selesai 1 menit sebelum jam pelajaran mau dimulai.


Dari dulu pertemanan gue dan Mentari memang sebatas kita berdua. Dia jarang main sama temen-temen gue lain di kelas, gue juga gapernah main sama temen-temen dia di IPA. Bahkan kita jarang akrab juga kalau diluar kelas karena ya keseringan kalau ngobrol cuma di meja aja.


Entah sejak kapan obrolan-obrolan kecil kita bertransformasi jadi obrolan personal. Tiba-tiba dia udah siap-siap mau pertukaran pelajar ke Amerika dan gue terus melanjutkan kelas 3 SMA di sekolah yang sama. Terus terus terus sampai gue lulus lalu kuliah, dia kembali dan melanjutkan kelas 3 SMA, kuliah, gue kerja dan dia kerja.


Berbeda sama hubungan gue dan temen-temen SMA lainnya yang hilang-muncul tergantung kebutuhan, hubungan gue sama Mentari selalu konsisten walaupun kalau ketemu setahun dua atau tiga kali aja.


Obrolan yang tadinya personal dan hanya tentang love life makin ke develop tentang social issue and judgment, menguliti pendapat kita satu-satu terhadap sudut pandang kita sama suatu hal. Rasanya seperti tumbuh besar bersama.


Walaupun waktu itu beda kampus dan bidang kerjaan, kita masih suka menyempatkan bertemu. Dan bener kata orang, katanya kalau orang sahabatan itu nggak punya foto berdua. Foto berdua proper yang bisa gue temuin ya waktu studi banding ke Bali atau perpisahan dia ke Amerika, dua duanya ketika SMA di tahun 2012.


Tapi emang dari semua obrolan yang kita punya trigger yang paling sering muncul adalah love life, ngeliatin perjalanan cinta Mentari mulai dari pacar keduanya. Kayaknya kalau suruh recall-recall lagi gue masih bener-bener inget gimana cerita satu-satu orang orang yang hilir mudik dalam hidupnya. Termasuk Yasser, pacarnya selama 5 tahun terakhir.


Sampai akhirnya memasuki tahun 2020-2021, tahun-tahun yang tidak mudah buat dia. Menjadi saksinya juga nggak kalah bikin meringis especially ketika tau gue nggak bisa banyak bantu kasih impact untuk challenge-challenge dalam hidupnya saat itu.


Gue cuma bisa menawarkan doa pada saat itu. Dua tahun ini juga tahun yang menantang untuk gue di kantor sehingga sering kali obrolan kita terputus karena gue skip membalas. Tapi hidupnya terus berjalan, seperti biasa - dia selalu bisa menyelesaikannya sendiri.


Mungkin puncaknya sepanjang tahun 2021 ketika masalahnya makin lebar kemana-mana dan nggak hanya seputar love life. Kadang gue suka bergidik sendiri kemana hidupnya mau ngebawa dia, kok rasanya ga ada akhirnya cobaan yang datang, melalui perjalanan yang kadang bikin gue speechless saking beraninya dia melakukan hal tersebut, tapi ya harusnya gue nggak heran because she's just being herself all the time: fearless.


Sampai ketika pesan itu datang, "btw gue belom update ini, doain ya lancar nikah" Deg! Rasanya seperti baca novel tapi udah masuk ke halaman-halaman terakhir. Usaha-usaha yang dia usahakan selama setahun terakhir, yang selama ini selalu jadi angan-angan obrolan kita, yang selalu tertunda di lampu merah akhirnya mendapatkan lampu hijau.


Lagi-lagi saat itu gue sedang disibukkan sama brief baru kantor sehingga membuat respon gue terputus-putus dan butuh waktu lama untuk gue bener-bener processing that this is almost the end scene.


Momen itu berjalan begitu cepat, persiapannya terasa begitu instan (untuk gue instan, mungkin panjang untuk dia since dia yang ngerjain semuanya sendiri) sampai akhirnya sampai di momen chat "nggak nyangka seminggu lagi gue nikah" dan ditelfon "hah lo tiga hari nikah nih ya? hah hah hah?"



Gejolaknya mulai terasa. Selama ini kita selalu bisa mengirim pesan kapan saja, mengeluh kapan saja, ngomongin orang kapan saja. Kadang kalau telfon suka menghabiskan seperempat malam sendiri.


Ketika menutup telfon di tiga hari sebelum menikah rasanya berbeda, gue baru menyadari tanpa sadar bahwa kita sama-sama ada di momen-momen besar selama hampir 10 tahun terakhir.


Dalam hati ingin rasanya menghabiskan 3 malam terakhir ngobrol terus, membalas telfon-telfon dia yang sering abai terjawab karena selalu tertutup notifikasi kerjaan. Menyesalkannya adalah bahkan malam terkahir sebelum hari pernikahannya gue masih harus meeting sampai jam 11 malam.


Akhirnya chat "Eh, still awake ga?" di malam terakhir itu berbalas "udah bobok, mau siap siap make up now" di pagi hari, hari pernikahannya.

 

Mata gue kembali mengerjap setelah memandang lama langit-langit kamar, mencoba bertanya kenapa rasanya berbeda ya waktu dia yang nikah? Dulu waktu Dinko dan Charles yang notabene-nya juga sahabat gue, rasanya cukup senang aja.


Lalu gue mencoba mengorek lagi apa yang gue rasakan pagi ini: gue deg-degan juga!


Rasanya kayak lagi baca novel terakhir Harry Potter ketika kita tau hanya tinggal sisa 5 halaman lagi. Sangat excited, dalam hati kaya terus berteriak "you deserve this, you deserve this, finally, finally, finally!!!!", dan mungkin lebih ke bangga ya kayak "wah gila perjuangan lo setahun ini, dan ditutup semuanya di akhir tahun dengan jawaban yang lo cari" - it feels amazing!


Akad nikahnya emang hanya untuk kalangan keluarga saja sehingga gue cuma mengandalkan chat dia aja untuk tau apakah acaranya udah selesai. Pukul 12.15 pagi itu gue menerima pesan "HELLOOO, Aku sudah menjadi wanita bersuamiii" dengan foto selfie bersama Yasser, gue langsung berdesir dan menitikkan air mata tanpa sadar - bahagia sekali rasanya.


Sorenya gue bersiap-siap ke acara resepsinya, gue masih uring-uringan karena Ais nggak bisa ikut dan gue juga nggak tau harus bersama siapa di sana mengingat ya gue cuma temenan berdua aja sama dia. Gue pikir ini akan cepat, gue datang dan mungkin foto lalu pulang.


Sampai di gedung gue bertemu dengan teman-teman dari kelas IPA-nya, dengan ramah mereka mengajak gue bergabung. Ketika sedang ikut nimbrung bersama teman-temannya mata gue langsung tertuju kepada layar besar yang menampilkan slideshow foto pre-weddingnya.


Tanpa sadar gue tersenyum melihat foto-fotonya, sepanjang tahun ini gue selalu mempertanyakan kenapa Mentari segitu memperjuangkan Yasser. Dia cuma bilang bahwa Yasser juga punya perasaan sama besarnya dengan dia. Gue kira itu cuma omongan basi orang yang jatuh cinta aja jadi selalu gue tanggepi dengan "hadehhh" ternyata pas gue liat foto foto-fotonya gue baru mengerti, ternyata Mentari benar bahkan dari sorot matanya di foto Yasser benar-benar menunjukkan bahwa ia juga berjuang di medan yang sama dengan Mentari.


"Kenapa senyum senyum, cha?" Tanya Anes membuyarkan lamunan gue

"Eh keliatan ya?" Gue kira ga keliatan karena ketutupan masker. Dia ikut memandang arah pandang gue.

"Cepet banget ya rasanya?" Tambahnya seperti mengerti sorot mata gue. Gue hanya mengangguk menahan supaya tidak menitikkan air mata lagi "Bangga ya rasanya bisa liat sampe di titik ini" yang kemudian diangguki Anes.


Ketika sedang asik makan, gue nggak sengaja melihat Nara yang berdiri di dekat gue memandang layar depannya yang jauh lebih besar. Kali ini menampilkan foto akad nikahnya tadi pagi, "Beda banget ya dia" ujar Nara. Gue hanya tersenyum mengangguk seraya begumam dalam hati "begini ya men rasanya menutup novel kisah lo sendiri?"

Lucu ya, kisah cinta satu orang tapi rasanya kita penonton di sekitarnya juga ikut merasakan bahagianya.


Waktu salaman sama Mentari dan Yasser keliatannya gue ketawa-tawa aja tapi rasanya juga gue gue pengen ngomong dalam-dalam ke Yasser "Please banget jagain ini anak orang, you never know how big your role impacting her life".



Di perjalanan pulang gue seperti baru saja menyelesaikan nonton film Avengers Endgame. Kalau dipikir-pikir konflik hidupnya emang memuncak di tahun ini dan dunia begitu adil untuk membantu Mentari menyelesaikan masalahnya satu-satu bahkan sebelum menutup tahun.


Rasanya benar-benar seperti menyelesaikan akhir dari film 3 jam atau halaman novel ke 800. Puas dan senang.

 

Lampu dari pencakar langit Jakarta membelah malam gue sambil terus membuat gue berpikir kenapa rasa bahagianya sangat personal untuk gue malam ini.


Hingga gue menyadari bahwa selain bertumbuh besar bersama, Mentari banyak menginfluence kehidupan gue setelah gue mengenalnya. Mulai dari gue akhirnya tertarik untuk lebih giat belajar bahasa inggris karena pengen bisa baca novel import yang dia baca, lagu-lagu iPod gue lebih rapih dilengkapi lirik, sampai pengalaman sekolah di luar negeri.


Karena look up ke dia, gue jadi bener-bener sekarang sukanya novel bahasa inggris, selalu merapihkan tampilan di gadget gue dan juga mengejar kesempatan untuk pertukaran pelajar ke Inggris.


Mentari juga salah satu sosok yang terus mengapresiasi blog gue ini, selalu bertanya kapan gue update dan bacain post-post blog gue. Kadang ngatain karena terlalu cheezy, kadang mengungkapkan persetujuannya.


Gue rasa a dedicated single post for her on her wedding day wouldn't be so bad. So, here's one:

Terima kasih sudah selalu menjadi teman yang baik, influence yang bagus & pembaca yang setia untuk gue.

Cheers for the better life that you deserve it for so long!


Ini bakal jadi "Ser, liat, masa abis youtube, dia bikin ginian, kecintaan bgt dia sama aku kali ya?" gak?

LOL Yaser kalau mau ketawa, waktu dan tempat dipersilakan - sigh.



Love, me!

xoxo