February, Marriage Talk & First Campaign


I know I should have wrote this earlier, but I couldn't.

There's so much happening in life since February and I - even, can't open my draft.


So hi, how are you doing?

Wanna hear the good thing? The myom and the cyst are completely gone - at least for now.

Wanna hear the bad thing? Those parasites could come anytime soon - at least in a year, unless one thing


Yep, to be sexually active or simply say....getting marry. Wait what?

Okay, let's bring this Marriage Talk to the table.


Pernah nggak sih membayangkan siapa orang yang akan mengangkat topik ini di hidup lo? Orang tua? Tante om lo ketika lebaran? Orang asing ketika lo lagi duduk di busway? Menganjurkan untuk sekiranya lo segera menikah. Well, siapapun orangnya, gue ga pernah menyangka bahwa topik ini akhirnya terbawa di rumah sakit persalinan oleh dokter ahli reproduksi.


"Sebelumnya maaf banget ya mbak, secara umur sudah matang, secara fisik juga sudah butuh. Ada baiknya disegerakan untuk...menikah"


I completely went........

gif

I was expecting if any surgery or treatment may required but not marriage dude???!!!

"Kalau memang belum menikah sampai setahun sejak hari ini, ke sini lagi ya kita monitor lagi perkembanganya. Nih saya tulis ya dibukunya supaya mbak bener bener ada waktu untuk memikirkan"


Jika di pertemuan sebelumnya gue merespon dengan hilang kesadaran, di pertemuan kali ini pikiran gue terbang melayang entah kemana. Memikirkan kemungkinan yang bisa terjadi atau langkah apa yang perlu gue lakukan.


I realized that marriage talk has never been easy. Gue kira dulu tuntutan menikah karena memang ada kebutuhan dari rencana kehidupan yang dibuat seseorang, kondisi orang tua, dijodohkan orang tua, tekanan lingkungan, atau segala hal yang sifatnya masalah sosial. Tapi karena penyakit? That's kinda new and no one can control it! Gue jadi tau dibalik hal hal yang rasanya sederhana untuk orang ternyata dunia bisa aja menawarkan yang lebih kompleks daripada itu.


Dari masalah ini gue belajar untuk mulai mengatur emosi untuk hal yang bisa gue kontrol dan nggak - otherwise, gue akan capek duluan untuk mikirin masalah sederhana tapi gue bikin ribet. Yang tadinya gue panik, gue berusaha untuk take it easy dan lebih memilih menjaga pola makan gue untuk setidaknya menahan agar parasit tersebut tidak datang dalam waktu yang lebih cepat. Sementara itu terus berdoa supaya dikasih jalan yang terbaik.


Selain itu juga, gue dikasih banyak distraksi termasuk dengan ngerjain campaign pertama gue di kantor. Semenjak masuk Marketing januari kemarin, project pertama gue adalah menggelar promo untuk Tahun Baru Imlek. Banyak belajar dari campaign ini termasuk flow komunikasi yang masih berantakan antar satu departemen dengan departemen lainnya.


Ngerjain project ini bikin gue sadar dimana posisi gue berada dan bagaimana masih panjangnya jalur karir gue kelak, gue cuma berdoa setiap harinya agar gue bisa selalu menikmati masa masa tersebut. Walaupun rasanya waktu berjalan sangat cepat, kemarin gue hanya anak dari departemen lain yang diminta untuk jadi host acara kantor sekarang gue berada di otak dan punya kontrol penuh acara tersebut.


Februari yang tampaknya sebentar rasanya membawa begitu banyak memori untuk yang dikenang. Apapun itu, 2021 masih panjang dan gue percaya setiap bulannya pasti ada cerita baru yang ditawarkan hidup gue.


Salam Hombimba,


Graisa

xoxo

LET THE POSTS COME TO YOU